Tuesday, January 28, 2014

RUU Atau RAA ???

Kalau RUU adalah kependekan dari Rancangan Undang-Undang mungkin RUU Otsus Plus lebih tepat jika disebut RAA atau Rancangan Apa-Apaan. Pasalnya dalam isi dari draf RUU tersebut berisi ancaman dimana sebenarnya DPRP (Dewan Perwaklan Rakyat Papua) dan MRP (Majelis Rakyat Papua) mengusulkan untuk merevisi UU No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua.

Lucunya dalam RUU tersebut sudah disetujui oleh Gubernur papua, Ketua DPR Papua dan Ketua MRP dan MRPB (Majelis Rakyat Papua Barat) pada sidang pleno di Gedung MRP di Jayapura tangggal 20 Januari 2013 lalu.
Dalam RUU tersebut jelas sekali ancaman MRP dan MRPB untuk meminta referendum apabila RUU Otsus Plus ini tidak disetujui pemerintah pusat. Dalam Pasal 299 RUU bunyinya, Apabila setelah undang-undang ini disahkan tetapi tidak dilaksanakan dengan baik dan konsekuen maka MRP akan melakukan pleno istimewa dalam rangka meminta referendum. Hal ini juga diungkapkan oleh Timotus Murib.

“UU Pemerintahan Otsus Plus Pasal 299 isinya adalah apabila undang-undang tidak dapt dilaksanakan oleh pemerintah secara konsisten dan konsekuen serta tidak membawa manfaat yang signiftikan bagi upaya peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan orang asli Papua, atas prakarsa MRP dapat diselenggarakan referendum yang melibatkan seluruh orang asli Papua untuk menentukan nasih sendiri. Jadi UU ini harus benar-benar berpihak pada masyarakat asli Papua,” kata Timotis Murib pada wartawan di Jakarta (22/1).

Hal ini bukan tindakan yang berwibawa dari pemerintah daerah seperti yang diungkapkan oleh Ketua Komisi D DPRP, Yan Permenas Mandenas karena bisa menjatuhkan wibawa pemerintah daerah kepada pemerntah pusat.
“Kalau irama kita dalam konsep kesejahteraan maka marilah kita bermain dalam konsep kesejahteraan. Posisi bargaining itu harus kita lakukan bersama-sama. Tapi dengan mengeluarkan statement tersebut bukan sebuah hal yang berwibawa dari pemerintah daerah sehingga perlu dihindari sama sekali,” kata Mandenas. Penetapan.Draft.Otsus.Plus.Papua.Terkesan.Dipaksakan

Menurut Mandenas draf RUU ini harus dibahas khusus di sdang paripurna istimewa, dibahas pasal perpasal sehingga tidak bersinggungan dengan konstitusi dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Karena RUU ini mewadahi sebagian besar masyarakat Papua.

Para wakil rakyat diharapkan lebih bijak dalam membuat undang-undang. Tetap mejaga keutuhan NKRI bukan mengancam meminta referendum tanpa mengabaikan aspirasi rakyat Papua itu sendiri. Dana yang digelontorkan pemerintah pusat sangat besar tiap tahunnya dibanding daerah lain. 

Kaji ulang sistem yang bekerja di pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat karena pemerintah pusat cukup konsisten terhadap Papua yang notabene merupakan daerah dengan Otonomi Khusus. (Switch)

Monday, January 27, 2014

Baku Tembak di Puncak Jaya, Satu OPM Berhasil Ditangkap


Senin (27/1) Tim gabungan TNI/POLRI berhasil menangkap satu orang gerombolan anggota OPM dalam baku tembak yang terjadi kemarin (26/1) di Punjak Jaya, Papua.

Dikatakan oleh Kapolri Jenderal Sutarman usai membuka rapat kerja teknis Baharkam dan Korps Brimob di Mabes Polri, Jakarta Selatan. "Satu orang pelaku dari OPM sudah kami tangkap kemarin dan kami berhasil menyita satu pucuk senjata api", seperti diberitakan vivanews.

TNI/POLRI tidak akan tinggal diam melihat beberapa aksi OPM yang selama ini selalu meresahkan masyarakat dan kasus ini akan kami usut hingga tuntas. Selanjutnya, anggota OPM tersebut telah kami tahan dan akan diproses secara hukum, ujarnya.

Di tempat terpisah KASAD Jenderal TNI Budiman mengatakan juga "Pada prinsipnya masyarakat di Papua saudara kita. Saudara yang harus kita beri untuk lebih maju dan memperoleh keadilan. Tapi apabila masyarakat Papua bersenjata maka mereka akan berhadapan dengan kami, TNI." (PS)

Saturday, January 25, 2014

Baku Tembak OPM Vs TNI/POLRI Kembali Terjadi di Puncak Jaya


Mulia (26/1) Minggu pagi situasi di Puncak Jaya kembali memanas, sejak dini hari sekira pukul 04.00 WIT terdengar suara letusan senjata api  yang diduga kuat milik Gerakan Separatis Bersenjata (GSP) atau OPM yang terlibat baku tembak dengan anggota TNI/POLRI yang sedang melakukan Patroli keamanan, seperti dikabarkan vivanews.

Diduga kuat aksi ini ada hubungannya dengan tewasnya tiga orang kelompok gerombolan OPM pada kontak tembak yang terjadi Jumat (24/1) di kampung Yambi, Distrik Mulia. Akibatnya, masyarakat enggan keluar rumah untuk berktivitas.

Menurut Robert Yohannes, salah seorang masyarakat di Mulia, aktivitas masyarakat Mulia pagi tadi tidak seperti biasa, hanya beberapa orang saja yang berani keluar rumah, itu pun hanya di halaman rumah saja. Pasar Mulia yang biasanya ramai, tadi pagi terlihat sepi.

"Beberapa hari terakhir bulan ini OPM yang biasanya tidak pernah turun gunung, sering sekali turun, akhirnya jika bertemu anggota TNI/POLRI terjadilah aksi baku tembak. Hal seperti inilah yang membuat masyarakat takut untuk keluar rumah." ucap Robert melalui pesan singkatnya.

Sementara itu pimpinan daerah yaitu Bupati, Wakil, Ketua DPRD dan Ketua Klasis tidak berada di tempat, kami sebagai masyarakat sangat bingung, dalam situasi seperti ini mengapa tidak ada keseriusan pemerintah daerah untuk menyelesaikan persoalan ini. Untung saja masih ada anggota TNI/POLRI yang sering kali melakukan patroli keamanan selama ini, tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi kelanjutan tentang baku tembak tersebut. Apakah ada korban atau tidak? kami masih menunggu informasi lebih lanjut dari pihak berwenang di Mulia. (PS)

Mengenal Kabupaten Asmat




Kabupaten Asmat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua, Indonesia, Kabupaten yang baru berdiri tahun 2002 ini terletak pada koordinat: 40 - 70 Lintang Selatan, 1370 - 1410 Bujur Timur dengan luas wilayah 29.658 Km2. Kabupaten yang beribukota Agats ini terbagi atas tujuh distrik yaitu Agats, Atsy, Pantai Kasuari, Sawaerma, Suator, Akat dan Fayit.


Wilayah umum Kabupaten Asmat adalah dataran coklat lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba sungai (rawa-rawa) dengan curah hujan  3000-4000 milimeter/tahun. Setiap hari juga pasang surut laut masuk kewilayah ini, sehingga menyebabkan permukaan tanahnya sangat lembek dan berlumpur. Jalan yang menghubungkan antar Distrik dibuat dari papan kayu yang dibangun di atas tanah sampai-sampai ada yang menyebutkan bahwa Asmat adalah Kota di atas papan. Cukup unik bukan.
Dikarenakan wilayahnya yang tertutupi oleh rawa-rawa maka transportasi yang umum digunakan adalah perahu lesung atau long boat. Ada 2 macam perahu yang biasa digunakan, yaitu perahu milik keluarga yang tidak terlalu besar dan memuat 2-5 orang dengan panjang 4-7 meter. Sedangkan perahu clan bisa memuat hingga 20 orang dengan panjang 10-20 meter.

Keunikan lain yang membuat Kabupaten Asmat terkenal adalah kerajinan ukiran kayunya. Bagi suku Asmat, ukiran kayu erat kaitannya dengan roh leluhur dan karenanya tidak semata-mata diangap sebagai karya seni. Banyak dari benda seni yang dibuat Suku Asmat adalah simbol perang, pengayauan, dan pemujaan kepada prajurit leluhur. Selama berabad-abad, suku Asmat yang berusaha memenuhi keinginan roh leluhur dengan menghasilkan karya seni luar biasa dalam bentuk perisai, kano, pahatan, dan drum.  



Setiap tahunnya pasti ada pagelaran seni yaitu Festival Budaya.  Dalam Festival budaya ini akan diramaikan pameran ukiran kayu khas Asmat. Seniman Asmat mampu membuat karya ukiran tanpa membuat gambar terlebih dahulu atau sketsa, tetapi langsung membuat bentuknya lewat imajinasi mereka masing-masing terhadap benda atau perisitiwa di sekeliling mereka.

Selain pameran ukiran kayu, Festival ini juga akan diramaikan oleh ratusan seniman yang akan unjuk keahlian  menenun, berperahu, menari, dan pertunjukan musik tradisional. Pada penutupan festival akan ada acara pelelangan karya seni Suku Asmat. Harga yang ditawarkan tidak main-main satu benda seni dapat memiliki harga puluhan hingga ratusan juta rupiah. Bagaimana, apakah anda tertarik untuk pergi kesana?

Sumber:  

wikipedia.org

kebudayaanindonesia.net


Friday, January 24, 2014

Tiga Orang Gerombolan OPM Berhasil Diamankan TNI



Dalam kontak tembak yang terjadi pagi tadi (24/1) di kampung Yambi Distrik Mulia, Puncak jaya, aparat gabungan TNI/POLRI berhasil menangkap tiga orang gerombolan OPM dan menewaskan satu orang lainnya serta menyita satu pucuk senjata jenis SS1.

Seperti yang diberitakan oleh detik.com "Anggota kelompok radikal bersenjata yang dilumpuhkan oleh tim gabungan TNI AD berjumlah total 3 orang," jelas Kepala Dinas Penerangan TNI AD‎ Brigjen Andika Perkasa dalam keterangannya, Jumat (24/1/2014).

Hingga sampai saat ini, Tim Gabungan TNI AD masih melakukan penyisiran disekitar lokasi kejadian (Yambi), guna mempersempit ruang gerak mereka (OPM) dan menangkap pelaku penembakan yang terjadi di Mulia, Puncak Jaya beberapa waktu lalu.

Masyarakat sekitar sangat mengapresiasi tindakan aparat yang sangat tanggap dalam meringkus orang-orang yang ingin merusak kedamaian di Tanah Papua. (PS)

OPM Kembali Berulah, Namun Tewas




Penembakan terjadi untuk kesekian kalinya di tanah Papua.­ Pada (23/1) sekira pukul 23.00 WIT terjadi penembakan terhadap warga sipil terjadi di ruas Jalan Timika–Mapurujaya, Kampung Kamoro Jaya Satuan Pemukiman I (SP-1), Mimika dan (24/1) sekira pukul 07.30 WIT juga terjadi baku tembak antara Pasukan Pengamanan TNI/POLRI dengan kelompok separatis bersenjata atau OPM di Kampung Yambi, Distrik Mulia, Puncak Jaya.

Rentetan kejadian tersebut merupakan ulah dari OPM yang berusaha mengusik ketenangan dan kedamaian masyarakat Papua, namun karena aparat gabungan tidak tinggal diam melihat aksi mereka dan akhirnya salah satu anggota OPM tewas dan senjatanya berhasil diamankan.

Diduga kuat mereka adalah pelaku yang sama dengan kejadian pembunuhan tukang ojek beberapa waktu lalu di Mulia yang berbasis di Kampung Yambi dan berafiliasi dengan TPN-OPM yang dipimpin Goliat Tabuni.

Adakah dibenak mereka keinginan untuk membangun Papua menuju kesejahteraan yang lebih baik lagi. Ini adalah tanah kita, tanah anak cucu kita. Kalau bukan kita yang menjaganya lalu siapa lagi???

Saturday, January 18, 2014

Dua Anggota Kodim 1714/PJ Terkena Tembakan OPM

Papua Satu - Jayapura -Dua anggota Kodim Puncak Jaya yang terluka akibat serangan kelompok sipil bersenjata (KSB), Sabtu malam sekitar pukul 19.30 WIT, masih dirawat di sebuah rumah sakit di Mulia, ibu kota Kabupaten Puncak Jaya.

Keterangan yang dihimpun Antara mengungkapkan, kedua anggota TNI yakni Adi Purnomo dan Laode Armi, mengalami luka akibat serpihan peluru yang mengenai leher dan lengan mereka. Penembakan diduga dilakukan oleh KSB dari atas gunung yang terletak tidak jauh dari sebuah pos keamanan.

Saat KSB melakukan penembakan, kedua anggota TNI itu berada di luar pos sehingga terkena serpihan peluru, ungkap sumber Antara di Mulia, saat dihubungi melalui telepon selulernya.

Belum diperoleh penjelasan resmi dari pihak berwajib setempat terkait kasus penembakan tersebut.

Pos TNI AD di Papua diserang OPM, Dua Anggota Terluka

Pos Pengamanan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) di kota lama Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, pada Sabtu malam sekitar pukul 19.30 WIT diserang kelompok sipil bersenjata (KSB) yang biasa disebut OPM mengakibatkan dua personel TNI AD terluka.

Saat ini kedua anggota personel TNI AD tersebut mendapat perawatan di Rumah Sakit (RS) Mulia. Seperti diberitakan Antaranews.com.

Tuesday, January 14, 2014

Aksi Demo yang Katanya "Damai" di Jayapura

sisa pembakaran ban pada aksi demo yg katanya damai di depan Uncen
Beberapa organisasi yang menamakan dirinya Negara Federal Republik Papua Barat (NFRPB), West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL), Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Masyarakat (GEMPAR) tidak mendapat ijin dari pihak Kepolisian untuk menggelar aksi damai Senin (31/1) menyambut delegasi Melanesian Spearhead Group (MSG) ke Jayapura. Seberapa damaikah aksi demo yang terjadi akhir-akhir ini di Papua, khususnya di kota Jayapura? Mari kita simak fakta berikut ini.

Aksi massa Senin (31/1) di Monumen Yos Sudarso (Taman Imbi) oleh sekelompok massa dari NFRPB, WPNCL, KNPB membawa bermacam-macam atribut yang dihiasi bendera bintang kejora dan lambang WPNCL yang jelas-jelas melanggar Undang-undang dan juga sangat menggangu aktivitas masyarakat Jayapura hingga mengakibatkan aktivitas masyarakat lumpuh, seperti diberitakan di majalahselangkah.com. Mengapa pihak Kepolisian menangkap dan meminta penjelasan dari koordinator demo ini, karena tidak memiliki ijin demo dari Kepolisian dan membawa atribut yang melanggar Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang menyampaikan pendapat di muka umum.

Kegiatan serupa juga dilakukan sekelompok massa yang menamakan dirinya GEMPAR di depan pintu gerbang kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) dan membawa atribut yang mengandung lambang-lambang terlarang seperti bintang kejora. Massa juga menutup pintu gerbang Uncen dan membakar ban di depannya yang membuat tidak ada aktivitas kampus pada hari itu (13/1) seperti dikatakan Ketua Umum BEM Uncen Paulus Numberi “aksi demo dan pemalangan akses pintu gerbang Kampus Uncen Baru ini sangat merugikan aktivitas dari seluruh mahasiswa/i yang ingin mengikuti kegiatan perkuliahan di Uncen”.

Satu lagi fakta tentang demo yang dilakukan KNPB di Expo Waena dan mengakibatkan satu masyarakat sipil meninggal dunia seperti diberitakan tabloidjubi.com. Pada saat kejadian, korban sedang melaksanakan pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang ojek, namun tiba-tiba demonstran yang tidak terima karena dibubarkan menjadi brutal dan merusak semua fasilitas umum disekitarnya, mobil dan rumah warga pun tak lepas dari amuk para demonstran. Korban mengalami luka serius dibagian kepalanya, leher dan bagian paru-paru, akibat penganiayaan yang dilakukan massa KNPB, seperti diberitakan papuapos.com.

Itulah beberapa fakta bahwa kegiatan aksi demo yang katanya damai ini tak pernah diberikan ijin dari pihak Kepolisian karena sangat menggangu aktivitas masyarakat dan tidak ada keuntungan yang dapat diambil dari kejadian ini. Lalu mana aksi yang selalu diteriak-teriakan aksi damai atau demo damai apalah namanya namun berbuntut perusakkan dan mengganggu aktivitas masyarakat bahkan merenggut nyawa masyarakat sipil yang tak berdosa.(PS)

Monday, January 13, 2014

Demo Tak Berijin, Markus Haluk Digiring ke Mapolesta Jayapura

Jayapura (13/1) Sekjen Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua, Markus Haluk dan kawan kawan  digiring ke Mapolresta Jayapura terkait domenstrasi yang digelar di Taman Imbi, depan kantor DPRP.

Kapolres Jayapura Kota AKBP Alfred Papare, mengatakan saat ini pihak Kepolisian masih memintai keterangan kepada Marus Haluk terkait dengan demonstrasi yang dilaksanakan tanpa seijin Polresta Jayapura.

Domonstrasi yang mereka lakukan sudah jelas tidak memiliki izin namun karena para demonstran tetap melaksanakan aksinya akhirnya kordinator demo Markus Haluk kami amankan untuk dimintai keterangan di Mapolresta Jayapura.

"Tidak benar kami menahan puluhan pendemo, melainkan hanya koordinatornya saja yakni Markus Haluk," jelas AKBP Papare.

Saat ini, penyidik sedang meminta keterangan dari koordinator demo, dan bila tidak terbukti maka pihaknya akan melepaskan yang bersangkutan, kata Kapolres Kota Jayapura AKBP Papare.

Ditambahkan juga, bahwa tolong masyarakat jangan terpancing isu-isu lewat sms yang tersebar bahwa pihak kami melakukan penangkapan terhadap puluhan demonstran, jika tidak percaya silahkan datang ke Mapolresta Jayapura, tambahnya. (PS)

Sunday, January 12, 2014

Kisah Mesra Melanesian Spearhead Group dan Indonesia


Melanesian Spearhead Group (MSG) adalah sebuah organisasi antar negara-negara Melanesia dengan dasar “Agreed Principles of Cooperation Among Independent States of Melanesia” yang ditanda tangani di Port Vila pada 14 Maret 1988. MSG beranggotakan Fiji, Front de Liberation Nationale Kanak et Socialiste (FLNKS) Kaledonia Baru, Papua Nugini, Solomon Islands, dan Vanuatu. 

Pada KTT MSG ke-18 di Fiji, Indonesia untuk pertama kalinya diterima sebagai Observer. Diharapkan dengan menjadi observer dalam MSG, Indonesia akan dapat bekerja sama lebih erat dan memberikan kontribusinya kepada negara-negara anggota MSG, tentunya dalam hal percepatan pembangunan ekonomi di negara-negara Melanesia. (sumber)

Kerjasama yang dibangun oleh pemerintah Indonesia dengan negara-negara yang termasuk ke dalam MSG antara lain adalah bantuan bagi pembangunan Regional Police Academy Melanesian Spearhead Group (MSG) sebesar USD $ 500.000. Bantua ini diberikan langsung kepada Perdana Menteri Fiji Hon. Frank Bainimarama dalam kapasitasnya sebagai Ketua MSG 2011-2013 dan tuan rumah pembangunan Akademi Kepolisian ini. Dalam kesempatan tersebut, Perdana Menteri Fiji menyampaikan apresiasi tinggi atas dukungan dan sumbangan Pemerintah Indonesia dan memandang sumbangan ini sebagai wujud komitmen besar Pemerintah Indonesia dalam ikut meningkatkan kerja sama di kawasan Pasifik. (sumber)

Disamping banyaknya isu yang tersebar luas terutama di dunia maya tentang dukungan MSG terhadap Papua itu sama sekali tidak benar. Buktinya adalah tidak adanya agenda/laporan tertulis dalam website resmi MSG www.msgsec.info namun ditulis secara berbeda pada www.tabloidjubi.com yang mengungkapkan isi dari Komunike negara-negara MSG. (sumber)

Selain itu, Pemerintah Indonesia juga mendapat dukungan dari beberapa negara seperti PNG dan Australia seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa “Pemerintah Australia dan Papua Nugini (PNG) telah menyampaikan sikap untuk mendukung Papua dan Papua Barat sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia”. (sumber)

Di tempat lain Kapolda Papua juga mengatakan bahwa “ASEAN, OKI, Non Blok bahkan didukung  negara besar lain seperti Australia, USA, Belanda, Inggris yang sangat  jelas posisi politiknya  yakni  mendukung Papua adalah bagian NKRI”. Bahkan hampir semua pejabat  yang  berkunjung ke Papua, beber Kapolda, mulai PBB, UNICEF, Australian AIDS,  lembaga perwakilan-perwakilan dari  negara asing bagian politik dari Australia, New Zeland, Belanda, Inggris menyampaikan Papua aman dan kondusif. Bahkan Staf  PBB yang bekerja di Manila ketika beraudensi dengan Kapolda merasa kaget,  ternyata Papua jauh lebih aman dibanding Filipina Selatan. (sumber)

Sejak dulu hingga sekarang Papua merupakan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan selamanya juga akan begitu. Terlalu banyak isu yang berkembang yang ingin memisahkan Papua dari Indonesia namun tak kalah banyak dengan dukungan bahwa Papua adalah bagian integral dari NKRI. Jaga Papua Jaga Indonesia, Jaga Papua sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. (PS)

Thursday, January 09, 2014

Shootout TNI vs OPM in Timika, One Killed

Timika (9/1) - This afternoon approximately at 18:00 CET in contact with the fire between the military forces armed groups Separatist Movement (GSP) which is better known as OPM.

The gun battle occurred when military forces to maintain security patrolling the area around the post, precisely in the area of ​​East Levee Timika.

As a result of this shooting contact the OPM members were killed and one M16 type weapons were seized by military.

Until now, the news was revealed, there has been no official statement from the military command and the police about a complete chronology of events contact firing this afternoon. (PS)

Kontak TNI vs OPM di Timika, Satu Tewas

Ilustrasi "Kontak Tembak"


Timika (9/1) – Sore tadi sekira pukul 18.00 WIT terjadi kontak tembak antara aparat TNI dengan kelompok Gerakan Separatis Bersenjata (GSP) yang lebih dikenal dengan sebutan OPM.

Kontak tembak ini terjadi saat aparat TNI melakukan patroli untuk menjaga keamanan wilayah sekitar pos, tepatnya di kawasan Tanggul Timur Timika.

Monday, January 06, 2014

Tukang Ojek di Papua, Tewas di Tempat Setelah di Tembak OPM

Penembakan kembali terjadi di Puncak Jaya. Kali ini korbannya adalah tukang ojek (Abdul Halil) warga pendatang asal Makassar. Korban tewas di tempat kejadian setelah ditembak pada mata kanannya.

Penembakan ini terjadi pada Selasa (7/1) sekitar pukul 08.00 WIT di sekitaran SMU 1 Wuyuneri, Mulia, Puncak Jaya. Korban ditembak sesaat setelah mengantarkan penumpangnya kentempat tujuan.

Hingga saat ini, masih belum jelas apa motif pelaku. Namun diduga kuat pelakunya adalah Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) yang menamakan dirinya OPM dan bermarkas di Tinggi Nambut.

Kapolres Puncak Jaya, AKBP Marselis sudah mendatangi lokasi kejadian guna melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Sementara jasad korban sudah dibawa ke Rumah Sakit Mulia. "Kemungkinan keluarga akan mengambilnya untuk dibawa ke kampung halaman di Makassar," tuturnya.

Pelaku penembakan ini merupakan orang yang sama saat beberapa hari lalu melakukan penyerangan pos Polisi Kulirik dan merampas 8 pucuk senjata. Pimpinan penyerangan diduga adalah Leka Telenggen yang memiliki puluhan pengikut. Kelompok ini adalah anak buah dari Goliat Tabuni pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang bermarkas di Tinggi Nambut. (PS)

Rencana Evakuasi Korban Penembakan digagalkan OPM

Evakuasi jenazah (Abdul Halil) korban penembakan kelompok sipil bersenjata yang lebih dikenal dengan sebutan OPM di Puncak Jaya Papua mengalami hambatan dikarenakan pesawat yang dijadwalkan akan mengangkut jenazah korban tidak jadi mendarat di bandara Mulia Puncak Jaya.

Dari data-data yang kami peroleh melalui Antara, Selasa(7/1/14), mengungkapkan sebelumnya ada dua pesawat "Susi Air" yang mendarat di Mulia, dengan rute berbeda, yakni ke Nabire dan ke Jayapura.

Namun pada saat pesawat yang akan mengangkut jenazah melintasi "pintu angin" (tempat dimana pesawat mengambil posisi sebelum masuk bandara Mulia) pesawat ditembaki oleh kelompok sipil bersenjata tersebut. Dugaan kuat bahwa merekalah pelaku yang telah melakukan penembakan terhadap jenazah.

Akhirnya pesawat batal mendarat dan melanjutkan penerbangan ke Nabire. Masih belum jelas mengapa kelompok sipil bersenjata ini melakukan penembakan lagi, dan kali ini sasarannya adalah pesawat yang akan mengevakuasi jenazah.

Saat ini jenazah disemayamkan di kompleks perumahan guru SMA Wuyuneri, Mulia, ibu kota Kabupaten Puncak Jaya. (PS)

Thursday, January 02, 2014

Tahun Baru Propaganda Baru


Timika (31/12) Akhir tahun 2013 dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang menamakan dirinya Komite Nasional Papua Barat (KNPB) untuk melaksanakan peresmian Kantor Parlemen Rakyat Daerah (PRD) dan Komite Nasional Rakyat Papua Barat (KNPB) wilayah Mimika di jalan Kebun Siri Bendungan,Timika, Papua.

Berkedok sebagai ibadah syukuran lepas sambut tahun 2013 ke tahun 2014 sebagai upaya pengahasutan KNPB terhadap masyarakat Timika. Beberapa pendeta pun diundang untuk memimpin doa syukur tersebut, bukan untuk meresmikan kantor PRD dan KNPB.
Fakta dilapangan berdasarkan hasil dokumentasi foto yang kami dapat dari knpbnews.com terlihat sangat janggal. Beberapa kejanggalan tersebut yaitu Bangunan Kantor yg merupakan bagian samping sebuah gereja. Berikutnya adalah tiang bendera yang dibuat semi permanen pada sebuah kantor jelas tidak masuk akal.
Tidak hanya itu, fakta yang paling janggal terdapat pada spanduk dan foto yang dimuat. Pada spanduk memang dituliskan 31 Desember 2013, sedangkan foto tersebut diambil pada tanggal 7 Februari 2011. Suatu hal yang patut dipertanyakan kebenarannya.
Pertanyaannya, apakah benar peresmian kantor PRD dan KNPB tersebut benar-benar terjadi? Atau ada sesuatu yang direncanakan KNPB pada moment pergantian tahun 2014 ini?
Mari kita lebih jeli lagi dalam menyimpulkan sebuah pemberiataan di media maya, karena banyak terdapat propaganda yang terdapat di dalamnya. (PS)