Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Monday, March 03, 2014

Tahun 1947, Merah Putih Telah Berkibar Di Tanah Papua

Tugu Silas Papare di Serui. Foto : beritadaerah.com
oleh : Kanis WK
Zona Damai: Papua telah terlahir sebagai wilayah NKRI. Fakta sejarah ini dapat ditelusuri dari sejumlah catatan sejarah maupun pelaku sejarah yang berjuang mempertahankan NKRI dari Tanah Papua. Mereka adalah saksi sejarah bahwa di masa lalu, nasionalisme orang Papua telah berkobar mengikuti jejak para pejuang kemerdekaan di wilayah Indonesia lainnya, menentang penjajah Belanda dari bumi Nusantara. Dengan modus yang kurang-lebih sama, para nasionalis asal Papua menggabungkan semangat perjuangan mereka untuk membebaskan Irian dari cengkeraman penjajah Belanda.
Nasionalisme itu terlahir di Kota NICA Hollandia (Sekarang Jayapura) di sebuah lembaga kursus kilat Pamong Praja yang didirikan Belanda tahun 1944 dengan nama PAPUA BESTUUR SCHOOL. Lembaga itu didirkan untuk mengisi kekosongan petugas pemerintahan Belanda di New Guinea (Papua) karena Belanda kekurangan banyak personil akibat invasi Jepang ke Indonesia tahun 1942-1945.
Lembaga itu mendidik sekitar 400-an pemuda dari berbagai suku dan daerah di Papua. Di antaranya adalah Silas Papare, Frans Kaisiepo, Albert Karubuy, Marthen Indy, Johans Ariks, Sugoro Atmoprasojo, Lodewijk, Barent Mandatjan, Samuel Damianus Kawab dan Joseph Djohari.
http://www.carikabar.com/inspirasi/157-tokoh/1182-frans-kaisiepo-nasionalis-dari-timur-indonesia
Kehadiran lembaga ini telah mewarnai kesadaran politik orang Papua. Dari lembaga itu mereka dengan mudah mengikuti semua perkembangan situasi politik yang terjadi di seluruh wilayah Nusantara. Frans Kaisiepo, Silas Papare dan para pendukungnya terinsipirasi untuk ikut berjuang membebaskan Tanah Papua dari penjajah Belanda sebagaimana terjadi di Jawa, Sumatera dan lainnya. Maka secara sembunyi-sembunyi, para peserta kursus itu sering mengadakan rapat secara yang pada intinya menentang pendudukan Belanda di Papua dan ingin bersatu dengan NKRI. Mereka merasa bebas mendiskusikan segala sesuatu yang menyangkut kepentingan masa depan daerah dan pandangan serta pilihan mereka.
Diskusi antara para buangan dan Silas Papare.
Ilustrasi :
http://www.flickr.com/photos/10324835@N06/4431037643
Mereka kemudian membentuk dewan perwakilan di bawah pimpinan Sugoro Admoprasojo dengan anggota, antara lain Frans Kaisiepo, Marthen Indey, dan Silas Papare, G Saweri, SD Kawab dan teman lainnya. Frans Kaisiepo tidak setuju dengan papan nama yang bertuliskan PAPUA BESTUUR SCHOOL. Ia memerintahkan Markus Kaisiepo, saudaranya, untuk menggantikan papan nama Papua Bestuurschool menjadi IRIAN Bestuurschool.
Mengibarkan Bendera Merah-Putih
Bermodalkan kesadaran politik dan sekumpulan pemuda-pemuda terpelajar, Silas Pepera dan kelompoknya pulang ke kampung halamannya di Serui. Tahun 1946, Silas mendirikan mendirikan PKII (Partai Kemerdekaan Indonesia Irian). Setahun kemudian, tepat pada 17 Agustus 1947 Silas Papare dan kelompoknya, antara lain Albert Karubuy, Marthen Indy, Johans Ariks, Lodewijk, Barent Mandatjan, Samuel Damianus Kawab, Joseph Djohari dan para pendukungnya melakukan upacara pengibaran bendera Merah Putih untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Silas memimpin upacara itu. Akibat dari tindakan itu seluruh peserta upacara harus meringkuk dalam tahanan polisi Belanda lebih dari tiga bulan.
Lagerberg (1979) mencatat bahwa PKII memperoleh dukungan dari berbagai kalangan di Irian Dukungan juga datang dari masyarakat Sorong, Manokwari dan Biak (de Bruijn, 1978).
Sebagai Ketua PKII, Silas Papare berpendirian bahwa Papua secara historis tidak terpisahkan dari Indonesia. Tanpa henti Silas memperjuangkan prinsip itu. Dia berpendapat bahwa sebelum proklamasi Indonesia, Papua adalah bagian dari Hindia Belanda. Namun setelah Proklamasi, Indonesia telah berjuang untuk Papua dan Papua berjuang bersama Indonesia.
http://bintangpapua.com/opini/25542-poros-jogja-papua-dalam-dialog-
Sementara itu, di Biak, Frans Kasiepo menggagas berdirinya Partai Indonesia Merdeka (PIM) tahun 1946. Ia menggalang kekuatan di Biak guna menentang kehadiran Belanda di sana. Frans terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia juga menolak dengan tegas pengangkatan dirinya menjadi anggota delegasi Belanda pada Konferensi Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda. Sikap keras Frans membuat Belanda kemudian mengasingkannya ke tempat terpencil.
Silas Papare dan Frans Kaisiepo adalah perwakilan nasionalis yang sadar akan pentingnya kemerdekaan Indonesia bagi Papua. Kedua tokoh dan para pendukungnya berharap bersama Indonesia Papua akan terbebaskan dari kolonialisme dan imperialisme. Dengan menerima fakta bahwa Indonesia terdiri atas berbagai suku dan agama, Silas dan Frans telah mengajarkan nilai-nilai bhineka tunggal ika bagi orang Papua, tidak saja demi mengusir bangsa penjajah dari Tanah Papua, tetapi juga untuk membangun Papua yang semakin maju dan sejahtera.
Nasionalisme Indonesia telah mengubah cara berpikir kaum intelektual Papua di jaman itu. Sebagai satu bangsa, masyarakat Indonesia, termasuk Papua, tidak hanya mempunyai kesempatan yang sama untuk membangun Papua. Mereka juga berkesempatan menduduki posisi pemerintahan yang lebih tinggi, yang tidak didapatkan selama pemerintahan Belanda. [Kompasiana]

Wednesday, February 26, 2014

Monumen Tugu Pepera

Banyak cerita sejarah yang terdapat di tanah Jayapura, salah satunya adalah dengan dibangunnya monumen tugu Pepera. Pembangunan monumen ini dibuat untuk memperingati deklarasinya rakyat Papua dan khususnya Kabupaten Jayapura itu sendiri dalam hal bergabung di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Bangunan ini menyimpan banyak cerita sejarah tentang rakyat di Jayapura dan juga selalu menjadi tujuan utama bagi setiap wisatawan yang datang ke bumi Papua. 

Wisata Dan Sejarah Singkat Bangunan monumen tugu Pepera ini tidaklah terlalu besar, namun jika dilihat secara lebih dekat, banyak keunikan yang bisa anda temukan. Monumen ini dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari besi, di cat berwarna putih dengan beberapa tiang yang terbuat dari semen sebagai penyambung antar pagar. 

Tiang ini memiliki ukiran yang sangat khas, yaitu bermotif ukiran Tifa. Ukiran ini memiliki makna besar yang berarti “Berasal Dari Satu Suku Besar”. Di dalamnya terdapat sebuah penanda yang bertuliskan “MONUMEN TUGU PEPERA” dan di belakangnya terdapat beberapa anak tangga kecil untuk menuju ke dinding yang bergambar peta wilayah Republik Indonesia dengan latar yang di cat berwarna merah putih. 

Pada bagian sisi dindingnya pun diberi ukiran yang sangat khas dengan suku Papua. Di bawah peta terdapat sebuah tulisan yang menjelaskan tentang sejarah Tugu Pepera ini. Pada bagian depan peta terdapat beberapa tiang yang berdiri tegak berjejer dengan bentuk sangat sangat khas. 

Tiang ini terdiri dari lima buah di sebelah kanan dan lima buah di sebelah kiri. Pada setiap ujung tiang memiliki sisi yang meruncing dengan beberapa ukiran pula di badannya. 

Menurut sejarahnya, monumen ini dibangun untuk memperingati deklarasinya Penentuan Pendapat Rakyat atau biasa di singkat PEPERA pada tahun 1969. Setelah PBB memutuskan bahwa Papua milik Indonesia, saat itu rakyat papua diberikan kebebasan untuk menentukan diri dalam hal bergabung di NKRI. Kebebasan berpendapat ini dilakukan dengan cara pemungutan suara yang dilaksanakan dari Merauke sampai ke Jayapura. 

Sebelumnya pernah terjadi pertikaian antara pemerintah Indonesia dengan Belanda dalam memperebutkan Tanah Papua ini. Pemerintah Indonesia terus berusaha menegaskan dan mengupayakan Papua untuk masuk dalam wilayah NKRI baik melalui cara diplomatik maupun cara militer. 

Sampai akhirnya pada tanggal 15 Agustus tahun 1962, PBB memutuskan untuk menyerahkan Papua kepada Pemerintah Indonesia. Hal ini ditegaskan dengan di tandatanganinya perjanjian antara Indonesia-Belanda. 

Perjanjian ini dikenal dengan nama perjanjian NewYork, karena penandatanganan perjanjian kedua belah pihak dilakukan di Markas Besar PBB yang berada di NewYork. 

Terdapat beberapa poin dari isi perjanjian NewYork ini yang harus dilaksanakan. Salah satunya adalah memberikan kesempatan kepada rakyat Irian Barat untuk menentukan pendapat mereka dalam hal ingin tetap berada di wilayah NKRI atau ingin memisahkan diri dari NKRI. 

Maka dari itulah pada tahun 1969 akhirnya dilaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Papua. Pelaksanaan pepera ini sendiri melewati beberapa tahapan. 

Tahap pertama yaitu mengkonsultasikan tata cara penyelenggaraan Pepera kepada Dewan-Dewan di Kabupaten Jayapura pada tanggal 24 Maret 1969. Tahap kedua yaitu pemilihan Dewan Musyawarah Pepera. 

Pemilihan ini berakhir sampai bulan Juni 1969. Tahap ketiga yaitu dilaksanakannya Pepera pada tanggal 4 Agustus 1969 yang dilakukan mulai dari Kabupaten Merauke sampai ke Kabupaten Jayapura. 

Berdasarkan hasil Pepera ini, didapat bahwa rakyat Papua akan tetap berada dalam wilayah NKRI dan untuk memperingatinya maka dibangunlah monumen tugu Pepera di dua tempat, yaitu di Kabupaten Merauke dan di Kabupaten Jayapura. 

Naskah Asli New York Agreement 15 Agustus 1962


Sunday, November 10, 2013

Pahlawan Nasional Indonesia dari PAPUA



Pahlawan Nasional Indonesia
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Ungkapan inilah yang selalu di katakan jika menjelang hari pahlawan yang selalu diperingati setiap tanggal 10 Nopember 2013.

Banyak pemuda modern saat ini lupa akan hal itu, mereka terlalu sibuk dengan teknologi yang berkembang dengan pesat saat ini. Ditambah lagi usaha-usaha pengaburan sejarah Papua oleh segelintir orang yang berkeinginan memisahkan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sesuai tujuan yang telah dijelaskan tadi, “agar kita dapat menjadi bangsa yang besar”, marilah kita bersama-sama mengenal pahlawan nasional Indonesia khususnya yang berasal dari Papua. Inilah keempat pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Papua:

  1. Marthen Indey (lahir di Doromena, Jayapura, Papua, 14 Maret 1912 meninggal di Doromena, Jayapura, Papua, 17 Juli 1986 pada umur 74 tahun) pada bulan Oktober 1946 beliau menjadi ketua PIM (Partai Indonesia Merdeka) dan bersama 12 kepala suku lainnya menyampaikan protes kepada pemerintah Belanda yang berusaha memisahkan Irian Barat dari Republik Indonesia. Pada bulan Januari 1962, ia menyusun kekuatan gerilya dan membantu menyelamatkan beberapa anggota RPKAD yang didaratkan di Irian Jaya selama Trikora.
  2. Silas Papare (lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918 meninggal di Serui, Papua, 7 Maret 1973 pada umur 54 tahun) adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Pada bulan Oktober 1949, beliau mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI.
  3. Frans Kaisiepo (lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921 meninggal di Jayapura, Papua, 10 April 1979 pada umur 57 tahun) terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti beruap.
  4. Mayor TNI Johannes Abraham Dimara (lahir di Korem, Biak Utara, Papua, 16 April 1916 meninggal di Jakarta, 20 Oktober 2000 pada umur 84 tahun) turut menyerukan seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat supaya mendukung penyatuan wilayah Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1962.

Itulah keempat Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Papua yang patut kita kenang dan kita hargai jasa-jasanya karena telah berjuang mempertahankan Indonesia dari penjajahan Belanda, khususnya di Papua.(PS)

Sumber:
id.wikipedia.org
papua.go.id
tokohindonesia.com


Friday, May 03, 2013

Pameran Foto-Foto Perjuangan Pengembalian Wilayah Irian Barat Ke NKRI Di Kota Sorong

Foto Dokumentasi Pengibaran Bendera Merah Putih berdampingan dgn bendera UNTEA 1 Mei 1963
SORONG – Zona Damai : Dokumen asli berupa foto-foto saat perjuangan pengembalian wilayah Irian Barat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipamerkan di Kota Sorong, Papua Barat, mulai 30 April hingga 2 Mei 2013.


Pameran foto itu merupakan rangkaian kegiatan “Gebyar 50 Tahun Irian Barat Kembali ke NKRI”. Pameran ini di gedung yang menjadi tempat diselenggarakan sosialisasi empat pilar kehidupan kebangsaan dan seminar nasional pada 1 Mei 2013.
Setidaknya 50 foto dokumen ditampilkan dalam pameran yang terbuka untuk umum. Panitia menyatakan, foto-foto yang ditampilkan asli dan tanpa rekayasa.
“Foto-foto ini bersumber dari Arsip Nasional,” kata Ketua Panitia Jimmy Demianus Ijie.
Pelaksanaan PEPERA 1969
Foto yang ditampilkan menarik perhatian pengunjung karena menggambarkan rangkaian pemngembangan Irian Barat, mulai dari konfrontasi, pengerahan pasukan dan aksi massa, penggalangan dukungan massa di Yogyakarta, perundingan dan diplomasi hingga pelimpahan status Irian Barat dalam Sidang Umum PBB tanggal 1 Mei 1963.
Ada pula foto yang menggambarkan arahan Presiden Soekarno kepada Panglima Komando Operasi Mandala Mayjen Soeharto. Kemudian ada foto Soeharto sedang membaca peta Irian Barat bersama Komodor Suryadarma.

Satu foto bergambar pasukan Angkatan Udara berfoto bersama berlatar belakang pesawat angkut AURI. Di deret berbeda, terdapat foto aksi-aksi mengecam Belanda dalam tulisan di tembok-tombok.
Berkibarnya bendera Merah Putih mulai 1 Mei 1963 di Irian Barat kemudian diturunkannya bendera PBB juga ada di dalam foto. Kemudian Merah Putih juga berkibar di kampung-kampung di Irian Barat terdapat dalam salah satu foto.
“Foto-foto itu menguatkan eksistensi empat pilar kehidupan kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD’45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” kata Wakil Ketua Pimpinan Kerja Sosialisasi MPR Wahidin Ismail. [Antara]