Tuesday, November 26, 2013

KNPB Rallies in Papua, 11 Wounds 2 Critical

At least 11 people were injured , two of them critically , after clashes between hundreds of mass West Papua National Committee ( KNPB ) and dozens of police officers in Waena Expo Cultural Park , Village Waena , Heram District , City of Jayapura , Papua , on Tuesday ( 11/26/2013 ) afternoon . Action with the same issue in Timika forcibly disbanded .

Police officers pelted with stones by the mob KNPB
In addition to injuries , a number of cars and motorcycles that pass in front of the Road Abepura Sentani Cultural Park , Jayapura , destroyed by protesters throwing stones . Information compiled Kompas.com , hundreds of mass KNPB led Warpo Wetipo , came Waena Expo Cultural Park at around 11:45 CET .

In his speech , mass KNPB expressed support for the OPM office in Port Moresby , capital of Papua New Guinea on December 1, 2013 . Police officers from Jayapura Police Mobile Brigade Detachment assisted A protester asked to perform an action in the Cultural Park pavilion .

The request was submitted for mass KNPB not permit demonstrations of Papua Police . Initially , the mass delivered complied Jayapura police chief , Chief Alfred Papare it . However , about an hour and then ran out of the mass of the Cultural Park and chasing members Dalmas Jayapura Police Station .

The chase that police replied with tear gas toward protesters . After stopping the chase against members Dalmas , a hundred masses were then gathered in front of Mega Waena and Abepura Road blockade Sentani . Massa had vandalized the cars and motorcycles passing .

Witnessing acts of vandalism and attacks on road users , members of Brimob pursue Dalmas with KNPB mass . When the mob ran , police were combing through backward Waena Expo , Mega Waena , and surrounding areas .

At least 29 members were arrested KNPB mass in the pursuit and arrested in Jayapura Mapolresta . In this sweep , police found a number of people lying injured by the mob attacked . The injured victim was then evacuated to a hospital in Jayapura .

Following the incident , with Brimob Dalmas Jayapura Police Station raided a number of houses suspected of being a gathering place KNPB activists . The raids get some air guns , bombs dopis fish , and a number of documents KNPB .

Based on information compiled Kompas.com , police are still on guard at a number of locations in the Village Waena until Tuesday night . Head of Public Relations Papua Police , Chief Sulistio Pudjo , say , the action of which the masses of KNPB contrary to the democratic principles for which they demanded to the government and police .

"The persecution and destruction committed by unscrupulous KNPB not democracy but anarchy acts form that should be banned by anyone who upholds democracy , " said Sulistio when contacted by phone Tuesday night . He also said it was clear KNPB mass actions against the law . Act decisively , he said , will be enforced .

Wednesday, November 13, 2013

Dokumen Pepera Terkuak

Rabu, 23 Juni 2010 18:30
Dokumen Pepera Terkuak
Bersama Dokumen Lain Akan Diserahkan kepada Presiden SBY


JAYAPURA - Bintang Papua - Memanasnya aspirasi desakan referendum akhir-akhir ini, rupanya membuat hati keluarga para pencetus Pepera meradang, untuk itu mereka akhirnya secara terang-terangan mempublikasikan dokumen sejarah Pepera itu kepada publik. Ya, dokumen sejarah Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat), terkuak. Ternyata dokumen berharga itu, masih tersimpan rapi di rumah keluarga keturunan Stefanus Saberi, mantan Ketua Gerakan Merah Putih Provinsi Irian Jaya sesuai SK No 35/TK/Thn 1968. Dalam SK Gerakan Merah Putih Provinsi Irian Jaya tersebut tercatat sebagai pelindung adalah Pangdam XVII Cenderawasih Brigjen Sarwi Eddie Wibowo dan Muspida Provinsi Irian Jaya saat itu. 


Pepera adalah referendum yang diadakan pada tahun 1969 untuk menentukan status daerah bagian barat Pulau Papua antara milik Belanda atau Indonesia. “Gejolak politik yang akhir- akhir ini terjadi di Papua antara lain tuntutan agar pemerintah Indonesia memberikan referendum bagi rakyat Papua untuk membentuk negara otonomi terlepas dari induk semangnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) membuat keluarga keturunan Stefanus Samberi mempublikasikan kepada rakyat Indonesia khususnya rakyat Papua,” ujar Yakobus D Affar, cucu tertua almarhum mendiang Stefanus Samberi ketika menggelar jumpa pers di Restauran Bintang Laut, Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Rabu (23/6) pagi. Pasalnya, menurut Affar, selama sejumlah pihak selalu mengklaim bahwa merekalah pencetus Pepera, padahal dalam dokumen tersebut dikatakan bahwa Stefanus Samberi adalah seorang pencetus masuknya Irian Jaya ke pangkuan ibu pertiwi NKRI. “Dokumen otentik menyangkut sejarah Pepera kini masih tersimpan utuh di tangan saya. Semua kunci perjuangan Irian Jaya masuk ke NKRI ada ditangan saya,” tukas Affar. Karena itu, lanjutnya, pihaknya minta agar pemerintah Indonesia segera meluruskan sejarah Pepera yang tertuang dalam dokumen yang ditinggalkan Stefanus Samberi serta minta pemerintah Indonesia melindungi keluarga keturunan Stefanus Samberi di atas Tanah Papua.

“Melihat gejolak politik di Provinsi Papua antara lain rakyat Papua minta referendum, maka posisi kami terancam. Saya minta pemerintah Indonesia harus segera meluruskan sejarah Pepera agar semua orang dapat memahami tokoh No 1 yang memasukan Irian Jaya ke NKRI adalah Stefanus Samberi,” tukasnya meneteskan air mata. “Saya menyampaikan hal ini karena didukung bukti otentik dari dokumen asli peninggalan tete saya Stevanus Samberi. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa Mantan Ketua Gerakan Merah Putih Provinsi Irian Jaya saat Pepera hanya tete saya Stefanus Samberi bukan banyak orang sebagaimana yang diklain sejumlah pihak selama ini,” tukasnya seraya menunjukan dokumen asli peninggalan Stefanus Samberi. 


Menurut Affar, pihaknya membuka dokumen sejarah Pepera kepada publik lantaran Nikolaus Youwe, Ketua Organisasi Papua Merdeka (OPM) telah kembali ke Tanah Air setelah selama puluhan tahun tinggal di Negeri Belanda. Keberangkatan Nikolaus Youwe ke Negeri Belanda saat itu juga adalah berkat saran dari Stevanus Samberi. Ketika Nikolaus Youwe tiba di Jayapura, maka ketika itu pula Yakobus Affar berinisiatif meminta waktu untuk bertatap muka bersama Nikolaus Youwe hanya untuk sekedar menunjukkan foto dirinya dan Nikolaus Youwe tempo dulu sekaligus memohon kepada Nikolaus Youwe memfasilitasi agar keluarga almarhum mendiang Stefanus Samberi dapat bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 


Namun demikian, ujar Affar, permohonan untuk bertemu Nikolaus Youwe hingga kini tak pernah ditanggapi yang bersangkutan. Bahkan ia juga meminta bantuan Ondoafi Gasper Sibi untuk mempertemukannya dengan Nikolaus Youwe. Tapi belum terealisasi hingga kini. Maksud pertemuan dengan Presiden SBY, tambah Affar, agar pihaknya dapat menunjukkan sebuah dokumen tentang sejarah Pepera. Betapapun, sejarah Pepera mesti diluruskan oleh pemerintah serta rakyat Indonesia khususnya rakyat di Provinsi Papua. “Hal yang benar harus diungkapkan karena kebenarannya adalah diatas segalanya,” tukasnya. 


“Karena sulit bertemu Nikolasu Youwe, makanya saya gelar jumpa pers agar dapat dipublikasikan kepada pemerintah dan rakyat Papua. Biar pemerintah Indonesia dapat membandingkan perjuangan tete Stevanus Youwe dengan Nikolaus Youwe” Sekedar diketahui, Stefanus Samberi lahir di Serui 6 Juli 1935. Pada 9 Agustus 1976 di Jayapura ia diangkat menjadi Ketua Gerakan Merah Putih Provinsi Irian Jaya Almarhum Stefanus Samberi meninggal tahun 1983 ketika transit di Bandara Hasanuddin Makasar dalam penerbangan dari Jakarta menuju Jayapura. Kini jasad Stevanus Samberi dibaringkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Trikora, Waena. (mdc)

Monday, November 11, 2013

FAKTA-FAKTA UNIK TENTANG PAPUA


http://www.thecrowdvoice.com/post/fakta-fakta-unik-tentang-papua-5995402.html
Keindahan Alam Papua
Di postingan kali ini, saya akan membahas mengenai keunikan-keunikan dari daerah tempat tinggal saya; Tanah Papua.

1. Di Papua terdapat 268 bahasa daerah selain Bahasa Indonesia yang digunakan dan dikembangkan oleh berbagai suku di sana. Sehingga para peneliti di Amerika dan Eropa menyebut tanah Papua sebagai laboratorium bahasa.
Silakan di intip:
http://www.thecrowdvoice.com/post/bahasa-di-papua-dan-papua-barat-5924669.html

2. Bagian utara dan timur Papua merupakan daerah rawan gempa, sedangkan di bagian selatan termasuk daerah yang stabil.

3. Terdapat lebih dari 255 (52 %) suku asli di wilayah Papua. Sedangkan 48 % nya adalah Non-Papua yang didominasi oleh suku dari Jawa dan dari Sulawesi.

4. Di Papua terdapat Puncak Jaya yang merupakan puncak gunung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian diatas 5.000 meter. Puncak ini unik karena bersalju abadi padahal terletak di garis khatulistiwa.

5. Papua memiliki beberapa fauna khas diantaranya Cendrawasih, burung pintar, Kanguru, Kus-kus, kupu-kupu sayap burung dan Kasuari yang endemik di wilayah tersebut.
baca lebih lanjut gan:
http://www.thecrowdvoice.com/post/burung-cendrawasi-dari-papua-4891447.html

http://www.thecrowdvoice.com/post/burung-pintar-dari-papua-barat-4779728.html

http://www.thecrowdvoice.com/post/kupu2-sayap-burung-dari-papua-4800635.html

6. Di Papua terdapat tumbuhan obat yang disebut "SARANG SEMUT" dan "BUAH MERAH" yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, dan bisa menyembuhkan penyakit HIV/AIDS.
Lebih lengkapnya di sini sob:
http://www.thecrowdvoice.com/post/buah-merah-papua-5904098.html

7. Salah satu senjata tradisional suku Papua adalah pisau belati yang terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan hulunya dihiasi bulu dari kasuari.

Lanjut di bawah
(◦'⌣'◦)'')   ⇩
(,(")(")   ⇩⇩

Demonstrasi bukan Demokrasi



Illustrasi Demo (foto: ardhimorsse.wordpress.com)
Demonstrasi adalah hal yang sudah sangat sering didengar dikalangan masyarakat Indonesia khususnya di Papua. Mulai dari masalah Seperatis, Penolakan PT Freeport Indonesia (PTFI) dan penolakan Otonomi Khusus (Otsus) Plus yang tak kunjung ada akhirnya.

Jika dilihat lebih dalam mereka selalu mengatas namakan demokrasi dibalik aksi mereka yang tak jarang juga akan berakhir dengan anarkis. Sehingga banyak sekali kerugian yang ditimbulkan oleh aksi mereka ini. Walau kadangkala terdapat pula pihak-pihak yang merasa senang.

Apa sebenrnya tujuan mereka datang di kampus? Mau belajar kah atau mau demo? Atau ada indikasi bahwa sebenarnya mereka telah disusupi oleh institusi lain atau perorangan yang mendanai semua kegiatan mereka untuk satu tujuan tertentu yang pastinya akan menguntungkan pihak yang berkepentingan tersebut.

Demokrasi penyampaian pendapat di Indonesia yang telah diatur oleh Undang-undang sering di politisir oleh orang-orang seperti ini. Padahal sudah jelas bahwa Demokrasi Pancasila yang kita gunakan di negara kita ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Kedaulatan ada di tangan rakyat.
  2. Selalu berdasarkan kekeluargaan dan gotong-royong.
  3. Cara pengambilan keputusan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.
  4. Tidak kenal adanya partai pemerintahan dan partai oposisi.
  5. Diakui adanya keselarasan antara hak dan kewajiban.
  6. Menghargai hak asasi manusia.
  7. Ketidaksetujuan terhadap kebijaksanaan pemerintah dinyatakan dan disalurkan melalui wakil-wakil rakyat.
  8. Tidak menganut sistem monopartai.
  9. Pemilu dilaksanakan secara luber.
  10. Mengandung sistem mengambang.
  11. Tidak kenal adanya diktator mayoritas dan tirani minoritas.
  12. Mendahulukan kepentingan rakyat atau kepentingan umum.

Jadi, apa yang sebenarnya paham demokasi yang digunakan oleh para pendemo belakangan ini. Jangan-jangan mereka lebih tertarik dengan Money Politik yang lencarkan oleh orang-orang yang memiliki kantong yang tebal di belakang sana.

Seharusnya jika mereka sadar apa yang mereka pelajari dan perjuangkan di tempat pendidikan tersebut adalah merupakan suatu bentuk perjuangan juga, namun berbeda caranya. Tak perlu lagi ada aksi yang malah merugiakan orang lain, tak perlu lagi ketakutan-ketakutan orang yang beraktifitas dekat dengan pendemo.

Kini saatnya Indonesia berubah lebih maju. Jangan tunjukkan kebodohanmu lagi dengan aksi aksi yang cenderung anarkis dan berakhir di terali besi. (PS)

Ganggu Seminar PTFI, 16 Aktivis GEMPAR Diamankan



Jayapura – (8/11) 20 orang aktivis Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (GEMPAR) melakukan demo di depan Auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen) sekitar pukul 12.00 WIT.
Demo di Depan Auditorium Uncen (foto: BintangPapua)
Mereka menyampaikan orasinya kepada Rektor Uncen antara lain “kami minta dengan tegas, hadirkan 29 orang akademisi Uncen yang terlibat dalam penyusunan draft Otsus Plus di tempat ini dan bebaskan Yason Ngelia bagi kami, dia tidak bersalah” ujar salah satu aktivis GEMPAR, Alvaris Kapisa.


Pembantu Rektor III sempat menemui mereka dan berkoordinasi sehingga para aktivis GEMPAR mau meninggalkan tempat dan kemudian menuju Gapura Uncen. Namun setelah 30 menit kemudian, para aktivis tersebut kembali lagi ke depan Auditorium Uncen.

Pada akhirnya, dengan dasar laporan tertulis (8/11) pukul 12.00 WIT dengan No LP : 1429/XI/2013/Sektor Kota Abepura atas upaya menggangu dan menggagalkan seminar dan pameran, pihak Kepolisian dari Polresta Jayapura sekitar pukul 14.05 WIT berhasil mengamankan sekitar 16 orang yang terlibat dalam aksi demo tersebut dan kemudian dibawa ke Polresta Jayapura untuk dimintai keterengan lebih lanjut.

Berikut nama-nama pendemo yang berhasil diamankan :
1.         Abraham Pasik Demotouw (21) Mahasiswa Kedokteran Uncen
2.         Alvares Kapisa (27) mahasiswa Kedokteran Uncen
3.         Beni Hisage (23) mahasiswa Fisip Uncen
4.         Daniel Kosama H (23) mahasiswa STIKOM
5.         Mepi Wakla (24) mahasiswa Fisip Uncen
6.         Frans Takimai (22) mahasiswa STIKOM
7.         Manuel Wenda (23) mahasiswa Uncen
8.         Nelius Wenda (23) mahasiswa USTJ
9.         Imanuel Lokobal (24) mahasiswa USTJ
10.      Agus Kadepa (23) mahsiswa Fisip Uncen
11.      Leo himan (24) mahasiswa FMIPA Uncen
12.      Muhammad Sabda Nawarisa (21) mahasiswa STIKOM
13.      Iso Dorus Tebay (21) mahasiswa Umel Mandiri
14.      Jhon Alis Douw (21) mahasiswa Umel Mandiri
15.      Usman Pahabol (21) mahasiswa FKIP Uncen
16.      Daud Giyai (18) siswa SMKN 2 Nabire

Dengan tertangkapnya ke-16 orang tersebut beberapa aktivis GEMPAR menyatakan rasa kekesalannya kepada pihak Kepolisian. Amsal Sama, ketua BEM FH Uncen mengatakan “kami tidak terima dengan aksi kali ini. Ini benar-benar tidak menghormati kami mahasiswa.” Hal tersebut ditegaskan lagi dengan pernyataan Nathan Homers salah seorang aktivis GEMPAR lainnya yangberkata dengan nada ancaman “jika tanggapan kita tidak digubris, maka kami akan menggalang massa dengan jumlah yang banyak, kami akan duduki Uncen sampai permasalahan ini benar-benar terselesaikan”.

Perlu diketahui bahwa aksi demo aktivis GEMPAR tersebut bertepatan dengan acara seminar dan pameran  yang dilaksanakan PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama dengan Uncen.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabidhumas) Polda Papua AKBP Sulistyo Pudjo H, SIK menjelaskan bahwa para pendemo tersebut berusaha menggagalkan seminar  dan pameran tersebut sehingga perlu diambil tindakan tegas dari pihak Kepolisian.

“Para pendemo kita jerat dengan pasal 335 KUHP yang intinya bahwa terdapatnyaa kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa orang berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu atau dengan perbuatan tidak menyenangkan” jelasnya.(PS)

Sunday, November 10, 2013

Pahlawan Nasional Indonesia dari PAPUA



Pahlawan Nasional Indonesia
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengenang dan menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Ungkapan inilah yang selalu di katakan jika menjelang hari pahlawan yang selalu diperingati setiap tanggal 10 Nopember 2013.

Banyak pemuda modern saat ini lupa akan hal itu, mereka terlalu sibuk dengan teknologi yang berkembang dengan pesat saat ini. Ditambah lagi usaha-usaha pengaburan sejarah Papua oleh segelintir orang yang berkeinginan memisahkan Papua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sesuai tujuan yang telah dijelaskan tadi, “agar kita dapat menjadi bangsa yang besar”, marilah kita bersama-sama mengenal pahlawan nasional Indonesia khususnya yang berasal dari Papua. Inilah keempat pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Papua:

  1. Marthen Indey (lahir di Doromena, Jayapura, Papua, 14 Maret 1912 meninggal di Doromena, Jayapura, Papua, 17 Juli 1986 pada umur 74 tahun) pada bulan Oktober 1946 beliau menjadi ketua PIM (Partai Indonesia Merdeka) dan bersama 12 kepala suku lainnya menyampaikan protes kepada pemerintah Belanda yang berusaha memisahkan Irian Barat dari Republik Indonesia. Pada bulan Januari 1962, ia menyusun kekuatan gerilya dan membantu menyelamatkan beberapa anggota RPKAD yang didaratkan di Irian Jaya selama Trikora.
  2. Silas Papare (lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918 meninggal di Serui, Papua, 7 Maret 1973 pada umur 54 tahun) adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Pada bulan Oktober 1949, beliau mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI.
  3. Frans Kaisiepo (lahir di Wardo, Biak, Papua, 10 Oktober 1921 meninggal di Jayapura, Papua, 10 April 1979 pada umur 57 tahun) terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Ia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti beruap.
  4. Mayor TNI Johannes Abraham Dimara (lahir di Korem, Biak Utara, Papua, 16 April 1916 meninggal di Jakarta, 20 Oktober 2000 pada umur 84 tahun) turut menyerukan seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat supaya mendukung penyatuan wilayah Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1962.

Itulah keempat Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Papua yang patut kita kenang dan kita hargai jasa-jasanya karena telah berjuang mempertahankan Indonesia dari penjajahan Belanda, khususnya di Papua.(PS)

Sumber:
id.wikipedia.org
papua.go.id
tokohindonesia.com


Friday, November 08, 2013

"Penjajahan Sistematis" di Papua



Permasalahan Papua yang tak kunjung ada akhirnya membuat para pejabat pemerintah pusat serta pemerhati politik dan keamanan ikut mengkritisi persoalan yang membuat polemik yang terjadi bertambah hangat dari hari ke hari.

Banyak dari mereka mengatakan bahwa faktor kesenjangan serta kurang meratanya pembangunanlah yang menjadi penyebab utamanya! Apakah hal tersebut sudah sesuai dengan pendapat orang Papua sendiri?

Illustrasi Otonomi Daerah (diazhamidfajarullah.wordpress.com)
Jika berbicara tentang kesenjangan dalam konteks kesejahteraan di Papua ada baiknya pemerintah daerah yang telah diberi tanggung jawab penuh dengan adanya otonomi khusus yang telah digulirkan mulai tahun 2001 ini menunjukkan sampai mana perjalanan otonomi khusus ini dijalankan dengan baik dan benar.

Otonomi khusus yang diberikan Negara Republik Indonesia kepada Papua melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 adalah suatu bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap Papua. Dalam rangka otonomi khusus Provinsi Papua (dan provinsi-provinsi hasil pemekarannya) mendapat bagi hasil dari pajak dan sumber daya alam sebagai berikut:
 
1.    Pajak Bumi dan Bangunan sebesar 90% (sembilan puluh persen)
2.    Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebesar 80% (delapan puluh persen)
3.    Pajak Penghasilan Orang Pribadi sebesar 20% (dua puluh persen)
4.    Kehutanan sebesar 80% (delapan puluh persen)
5.    Perikanan sebesar 80% (delapan puluh persen)
6.    Pertambangan umum sebesar 80% (delapan puluh persen)
7.  Pertambangan minyak bumi 70% (tujuh puluh persen) selama 25 tahun terhitung dari tahun 2001. Mulai tahun ke-26 menjadi 50% (lima puluh persen)
8.    Pertambangan gas alam 70% (tujuh puluh persen) selama 25 tahun terhitung dari tahun 2001. Mulai tahun ke-26 menjadi 50% (lima puluh persen).

Sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh persen) penerimaan Pertambangan minyak bumi dan gas alam dialokasikan untuk biaya pendidikan, dan sekurang-kurangnya 15% (lima belas persen) untuk kesehatan dan perbaikan gizi.

Dari data tersebut wajar kiranya muncul pertanyaan-pertanyaan yang selalu tercipta karena pembangunan di Papua terkesan berjalan layaknya siput yang sedang membawa beban. Kemanakah hasil bumi dan pendapatan daerah selama ini diperuntukkan?

Beberapa kasus mulai bermunculan, mulai dari korupsi DPR Papua Barat (http://tabloidjubi.com/2013/10/25/kasus-korupsi-dpr-papua-barat-ujian-bagi-kejaksaan/) hingga penyelewengan dana bantuan sosial oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) (http://notlurking.com/bit.ly/UJCS) yang seharusnya diterima oleh masyarakat Papua, mempertegas adanya kesenjangan sosial yang terjadi di Papua sengaja diciptakan oleh pejabat Papua sendiri.

Mengapa orang asli Papua yang seharusnya membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua malah memanfaatkan situasi geografis untuk menyejahterakan “orang Papua” yang memiliki hubungan darah saja dengannya? Mungkin inilah penyebab konflik internal berkepanjangan yang selalu menjadi headline news setiap hari di media on line. (PS)