Friday, February 28, 2014

Patroli Brimob Ditembaki OPM Di Papua

Serui (28/2) - Aksi teror gerombolan pengacau keamanan yang menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali melakukan gangguan-gangguan keamanan di Papua.

Setelah kemarin 25 Februari 2014 mereka menembaki Pos TNI Yonif 753 dan menyebabkan satu orang warga sipil terluka di bagian kaki kirinya, kini mereka melanjutkan aksinya di Kampung Kontinuai dengan menyerang anggota Brimob yang sedang melakukan patroli keamanan kampung.

Kejadian penyerangan ini terjadi sekira pukul 13.30 WIT siang tadi di Kampung Kontinuai Angkaseira Serui sehingga aksi baku tembakpun tak terhindarkan.

Menurut anggota Polres Serui, tidak ada korban dalam aksi penyerangan tersebut dan pihaknya saat ini sedang melakukan pengejaran yang dilakukan oleh anggota Brimob dan Polsek Angkaseira.

Ditambahkan lagi, bahwa identitas pelaku penyerangan ini telah diketahui oleh pihak kepolisian. Mereka adalah OPM kelompok Rudi Orarei yang sering melakukan aksinya di wilayah Angkaseira.

Pihak kepolisian akan melakukan penangkapan secepatnya dan akan diadili sesuai hukum yang berlaku. Agar masyarakat sekitarnya dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa harus merasa takut. (PS)

Thursday, February 27, 2014

Menyerang Pos TNI di Papua, KSB Melukai Satu Warga Sipil



Pos Merah Putih di Mulia


Mulia (Papua Satu) – (27/2) Telah terjadi penyerangan oleh beberapa orang tak dikenal terhadap Pos TNI di Wuyuneri Distrik Mulia Puncak Jaya. Diduga kuat penyerangan ini dilakukan oleh Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) yang sering mengganggu masyarakat di sekitar Puncak Jaya.

Wednesday, February 26, 2014

Raja Ampat Menjadi Tuan Rumah Sail Indonesia 2014

Setelah Sail Komodo 2013, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat akan menjadi tuan rumah pelaksanaan sail tahun 2014, dengan nama Sail Raja Ampat 2014. Penujukan Raja Ampat sebagai tuan rumah terungkap baik melalui surat-surat resmi maupun secara lisan, oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono pada penutupan Sail Komodo 14 September yang lalu di Labuan Bajo, Manggarai Barat tahun lalu.

“Pemerintah Kabupaten Raja Ampat sudah menyampaikan kesiapannya menjadi tuan rumah Sail Indonesia 2014 melalui surat resmi kepada Asosiasi Sail dan Wisata Indonesia (Aswindo),” kata Ketua Aswindo Hugua. Menurut dia, Sail Indonesia yang dipusatkan di Raja Ampat akan dihadiri sekitar 180 kapal layar mewah (yacht) dari berbagai negara, yang akan bertolak dari Australia sebagai titik awal konvoi.

Hugua mengungkapkan, para peserta Sail Indonesia hanya mau singgah di wilayah kabupaten yang pemerintah dan masyarakatnya bisa menyuguhkan berbagai atraksi budaya yang belum tersentuh modernisasi.

“Di wilayah kabupaten yang disinggahi, para peserta Sail hanya mau melihat kehidupan masyarakat yang masih alami dan kondisi lingkungan yang masih hijau,” katanya.

Ia mengatakan para peserta Sail rata-rata orang berkantong tebal di negara-negara maju yang sudah bosan melihat bangunan gedung pencangkar langit dan kehidupan yang penuh dengan rakayasa.

“Ketika para peserta layar ini tertarik dengan keaslian kehidupan masyarakat dan alam lingkungan, mereka akan berusaha kembali datang dan membawa keluarga dan kerabatnya,” katanya.

Salah satu tujuan Sail Indonesia adalah untuk mempercepat pembangunan daerah tertinggal tetapi juga dalam rangka mempromosikan potensi wisata alam dan wisata budaya daerah yang bersangkutan.

“Saya harap seluruh elemen masyarakat untuk kerja sama dan membangun kemitraan yang baik untuk mensukseskan pelaksanaan sail 2014. Nanti akan banyak program dari kementerian dan lembaga kabinet Indonesia bersatu yang akan masuk ke Raja Ampat,” harap Agung Laksono di Labuan Bajo tahun lalu. [Zonadamai.com]

Monumen Tugu Pepera

Banyak cerita sejarah yang terdapat di tanah Jayapura, salah satunya adalah dengan dibangunnya monumen tugu Pepera. Pembangunan monumen ini dibuat untuk memperingati deklarasinya rakyat Papua dan khususnya Kabupaten Jayapura itu sendiri dalam hal bergabung di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Bangunan ini menyimpan banyak cerita sejarah tentang rakyat di Jayapura dan juga selalu menjadi tujuan utama bagi setiap wisatawan yang datang ke bumi Papua. 

Wisata Dan Sejarah Singkat Bangunan monumen tugu Pepera ini tidaklah terlalu besar, namun jika dilihat secara lebih dekat, banyak keunikan yang bisa anda temukan. Monumen ini dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari besi, di cat berwarna putih dengan beberapa tiang yang terbuat dari semen sebagai penyambung antar pagar. 

Tiang ini memiliki ukiran yang sangat khas, yaitu bermotif ukiran Tifa. Ukiran ini memiliki makna besar yang berarti “Berasal Dari Satu Suku Besar”. Di dalamnya terdapat sebuah penanda yang bertuliskan “MONUMEN TUGU PEPERA” dan di belakangnya terdapat beberapa anak tangga kecil untuk menuju ke dinding yang bergambar peta wilayah Republik Indonesia dengan latar yang di cat berwarna merah putih. 

Pada bagian sisi dindingnya pun diberi ukiran yang sangat khas dengan suku Papua. Di bawah peta terdapat sebuah tulisan yang menjelaskan tentang sejarah Tugu Pepera ini. Pada bagian depan peta terdapat beberapa tiang yang berdiri tegak berjejer dengan bentuk sangat sangat khas. 

Tiang ini terdiri dari lima buah di sebelah kanan dan lima buah di sebelah kiri. Pada setiap ujung tiang memiliki sisi yang meruncing dengan beberapa ukiran pula di badannya. 

Menurut sejarahnya, monumen ini dibangun untuk memperingati deklarasinya Penentuan Pendapat Rakyat atau biasa di singkat PEPERA pada tahun 1969. Setelah PBB memutuskan bahwa Papua milik Indonesia, saat itu rakyat papua diberikan kebebasan untuk menentukan diri dalam hal bergabung di NKRI. Kebebasan berpendapat ini dilakukan dengan cara pemungutan suara yang dilaksanakan dari Merauke sampai ke Jayapura. 

Sebelumnya pernah terjadi pertikaian antara pemerintah Indonesia dengan Belanda dalam memperebutkan Tanah Papua ini. Pemerintah Indonesia terus berusaha menegaskan dan mengupayakan Papua untuk masuk dalam wilayah NKRI baik melalui cara diplomatik maupun cara militer. 

Sampai akhirnya pada tanggal 15 Agustus tahun 1962, PBB memutuskan untuk menyerahkan Papua kepada Pemerintah Indonesia. Hal ini ditegaskan dengan di tandatanganinya perjanjian antara Indonesia-Belanda. 

Perjanjian ini dikenal dengan nama perjanjian NewYork, karena penandatanganan perjanjian kedua belah pihak dilakukan di Markas Besar PBB yang berada di NewYork. 

Terdapat beberapa poin dari isi perjanjian NewYork ini yang harus dilaksanakan. Salah satunya adalah memberikan kesempatan kepada rakyat Irian Barat untuk menentukan pendapat mereka dalam hal ingin tetap berada di wilayah NKRI atau ingin memisahkan diri dari NKRI. 

Maka dari itulah pada tahun 1969 akhirnya dilaksanakan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di Papua. Pelaksanaan pepera ini sendiri melewati beberapa tahapan. 

Tahap pertama yaitu mengkonsultasikan tata cara penyelenggaraan Pepera kepada Dewan-Dewan di Kabupaten Jayapura pada tanggal 24 Maret 1969. Tahap kedua yaitu pemilihan Dewan Musyawarah Pepera. 

Pemilihan ini berakhir sampai bulan Juni 1969. Tahap ketiga yaitu dilaksanakannya Pepera pada tanggal 4 Agustus 1969 yang dilakukan mulai dari Kabupaten Merauke sampai ke Kabupaten Jayapura. 

Berdasarkan hasil Pepera ini, didapat bahwa rakyat Papua akan tetap berada dalam wilayah NKRI dan untuk memperingatinya maka dibangunlah monumen tugu Pepera di dua tempat, yaitu di Kabupaten Merauke dan di Kabupaten Jayapura.