Wednesday, February 26, 2014

Polda Papua Siap Amankan Droping Logistik Pemilu Legislatif

Jayapura (Papua Satu) - Polda Papua siap mengamankan pengiriman atau droping logistik Pemilu Legislatif di tanah Papua baik Provinsi Papua Barat maupun Papua.

Kapolda Papua Irjen Pol Tito Karnavian kepada Antara disela-sela pengecekan surat suara yang akan dikirim keberbagai kabupaten-kota di Papua, Rabu khususnya dipedalaman.

Dikatakan, pengamanan pengiriman logistik berupa surat suara itu mulai dari pelabuhan hingga tiba di ibukota kabupaten-kota.

"Kami sudah menyiapkan anggota untuk mengamankan pengiriman logistik hingga ke tujuan," kata Irjen Pol Tito.

Menurut Kapolda, pengiriman logistik di tanah Papua akan dilakukan melalui 10 pelabuhan penerima yang tersebar di kedua provinsi.

Untuk Papua Barat, pelabuhan penerima adalah Fak-fak, Kaimana, Manokwari dan Sorong.

Sedangkan Untuk Papua, kata Irjen Pol Tito akan di, ada enam kota yang menjadi titik pengiriman yakni Serui , Timika, Merauke, Nabire, Biak dan Jayapura.

Surat suara untuk kedua provinsi tercatat 16.236 koli atau dos. Satu dos berisi 1000 surat suara. (Antaranews.com)

Tuesday, February 25, 2014

Tim SAR Jayapura Kembali Temukan Korban Longsor


Jayapura  - Tim SAR gabungan TNI, Polri, dan Basarnas di Dok 5 Kota Jayapura, Papua, Selasa,  menemukan lagi dua jenazah warga yang tertimbun longsor Sabtu malam pekan lalu.

Dandim Jayapura Letkol Inf Wahyu kepada Antara, Selasa mengatakan, tim SAR gabungan menemukan dua korban dengan waktu yang berbeda.

Pertama, katanya, menemukan jenazah Ronald Kobepa pda Selasa sekitar pukul 00.10 WIT, lalu jenazah Aleksander Kobepa pada pukul 07.15 WIT.

Menurut Dandim Jayapura, dengan ditemukannya kedua korban maka saat ini masih satu korban yang belum ditemukan yakni Nela Kobepa.

"Saat ini tim SAR masih terus mencari korban yang belum diketemukan," aku Letkol In Wahyu.

Ditambahkan, korban banjir dan tanah longsor yang sudah ditemukan seluruhnya berjumlah delapan orang.

Banjir dan longsor yang terjadi Sabtu malam (22/2) akibar hujan deras yang mengguyur Jayapura, ibu kota Provinsi Papua.
(ANTARA News)

Jelang Pemilu, Ketua Sinode GKI Papua Imbau Jemaat Ciptakan Suasana Kondusif

Untuk menciptakan situasi kondusif di Kabupaten Kepulauan Yapen pascakejadian 1 Februari lalu, Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Alberth Yoku, S.Th melakukan kunjungan ke wilayah itu. Mengingat gereja di Tanah Papua sudah ada satu setengah abad, lebih tua dibanding pemerintahan Kabupaten Kepulauan Yapen.
“Sinode bertanggung jawab atas kondisi real yang dihadapi warga jemaat,” ujar Pdt Alberth saat ditemui Papua Pos di Bandara Sujarwo Cokroaminoto Serui, Senin (24/2). Pada kesempatan itu, ia mengingatkan sudah semakin dekatnya Pemilu Legislatif diharapkan jemaatnya  agar dapat menggunakan hak-hak politiknya dalam Pemilu nanti.
Kedatangannya ke Kabupaten Kepulauan Yapen adalah karena tugas mengembalikan warga jemaat di  Kampung Kanawa dan Sasawa pascainsiden  1 Februari 2014, di mana 38 Kepala Keluarga mengungsi ke dalam hutan untuk mengamankan keluarganya masing-masing dan aktifitas pelayanan gereja pada saat itu tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.
“Tigapuluh delapan KK sudah  kembali ke kampung dan kita sudah berkoordinasi bersama pemerintah daerah melalui bupati, wakil bupati, DPR, Kapolres dan Dandim untuk mengedepankan sikap persuasif supaya kondisi ini dipulihkan,” pintanya.
Pendeta Alberth mengatakan, pelayanan kesehatan, pendidikan, mental dan spiritual sudah dapat dilaksanakan dan diutamakan  oleh pemerintahan kampung. Termasuk memulihkan kondisi masyarakat di dua kampung ini sehingga persiapan pemerintah menjelang Pemilu Legisltif dan Presiden dapat berjalan sesuai dengan jadwal.
Ia juga menghimbau kepada para calon anggota legislatif pada saat akan dipilih menjalin hubungan yang baik,harmonis dan terbuka. Jangan setelah terpilih nantinya sembunyi dari rakyat, tidak pernah turun dan berkomunikasi bersama masyarakat dan warga jemaat.
“Mereka juga waktu ikut pemilihan calon legislatif minta di do’akan di gereja atau masjid. Karena itu, bila  sudah terpilih jangan menjauh dari pintu gereja dan masjid. Utamakan Tuhan dalam hidup dan pekerjaan,” harapnya.
Ia menyerukan kepada seluruh warga jemaat untuk mendo’akan Pemilu Legislatif dan Presiden dapat menciptakan situasi yang kondusif. Terlebih kepada partai-partai, bekerja dengan aturan yang berlaku dan persuasif dalam segala kondisi supaya Tanah Papua zona damai dapat terciptakan dan terlaksana. [PAPOS]

6 Gadis cantik dari Manado dijual ke Papua,tertangkap di bandara

Merdeka.com
6 Orang wanita cantik asal Manado, Sulawesi Utara diselamatkan tim buser Polresta Manado di Bandara Sam Ratulangi. Mereka diduga adalah korban perdagangan manusia.

Peristiwa ini terjadi, Selasa (24/2) sekitar pukul 07.00 WITA. Bersama mereka juga ditangkap 3 orang tersangka masing-masing FL alias Friska (21), YMI alias Yunita (23) dan KZ alias Keiko (23).

Keenam wanita muda tersebut rencananya akan diberangkatkan ke dua tempat yang berbeda yakni Kota Ambon dan Sorong dengan menumpang pesawat Lion Air.

Kapolresta Manado Kombes Pol Sunarto melalui Kasubag Humas AKP Johny Kolondam membenarkan aksi penangkapan tersebut.

"Mereka ditawarkan kerja sebagai pelayan di kafe dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan," ujar Kolondam kepada wartawan di ruang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Manado.

Informasi yang dihimpun merdeka.com, koordinator kelompok ini FL alias Friska (21). Mereka berangkat dari Kota Tondano sekitar pukul 05.00 WITA dengan menggunakan Avanza dan langsung menuju Bandara Internasional Sam Ratulangi.

Rencananya, setibanya di Ambon mereka akan dipekerjakan pada sebuah Kafe dengan iming-iming gaji jutaan rupiah.

"Kerja di Kafe Rendy. Gajinya dihitung premi Rp 15 ribu per botol jika dikalikan hasilnya jutaan rupiah," kata Friska sambil tertunduk.

Sementara tiket pesawat, menurut dia, sudah dibooking seseorang dari Kota Ambon.

Berbeda dengan grup pertama, grup kedua dengan tujuan Kota Sorong diiming-imingi dengan gaji yang lebih besar yakni sekitar Rp 10 juta per per bulan selama bekerja sebagai ladies di Kafe As.

Keenam korban perdagangan orang tersebut masing-masing wanita NT (24) asal Kelurahan Wulauwan Kecamatan Tondano, Kabupaten Minahasa dan GM warga yang sama. Keduanya akan diberangkatkan ke Ambon.

Sementara 4 korban lainnya dengan tujuan Sorong yaitu, VT (17) warga Kelurahan Tuminting Kampis, TT (17) warga Kelurahan Tuminting Mahawu, TK (26) warga Wawonasa dan, PW (18) warga Desa pondang Kecamatan Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan.

Kini keenam korban bersama tiga orang tersangka, berada di ruang PPA Polresta Manado guna pemeriksaan lebih lanjut. (Merdeka.com)