Sunday, December 06, 2015

Kelompok WPNCL Serahkan Satu Pucuk Senpi


Papua Satu. Kelompok West Papua National Coalition ForLiberation (WPNCL) dilaporkan telah menyerahkan satu senjata apirakitan kepada Polri. Penyerahan Senpi ini diterima oleh Kaur Reskrim Polres Jayapura Ipda Oskar Fajar.

Informasi yang diterima bahwa pihaknya telah sepakat menyerahkan Senpi dan bertemu di Kampung Wambena Distrik Depapre. Kaur Reskrim Polres Jayapura, Ipda Oskar Fajar, Kanit Resmob Polres Jayapura, Bripka M Sutrisno DZ beserta 6 Orang anggota lainnya tiba di Kampung Wambena Distrik Depapre dan langsung bertemu dengan tiga kelompok WPNCL, yakni Beni Yerisetouw (jaringan perantara), Nik Sorontouw (anggota WPNCL), dan Boas Yangroserai (pemilik senpi).

Dalam penyerahan tersebut, Kaur Reskrim Polres Jayapura, Ipda Oskar Fajar mengatakan atas nama Kepolisian Republik Indonesia, Polda Papua dan Polres jayapura mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang baikini, dan hal ini menunjukan bahwa saudara-saudara telah sadar dan beritikad baik untuk negara dan ingin hidup berdampingan dengan masyarakat lainnya. "Kita adalah satu dan kita adalah saudara, mari kita hidup bergandengan tangan untuk negeri ini, diharapkan untuk saudara kita yang lainnya juga tersadar untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi," katanya.

Hal senada juga disampaikan Kanit Resmob Polres Jayapura Bripka M Sutrisno DZ bahwa, pihaknya bangga dengan kelompok WPNCL yang dengan sukarela menyerahkan senjata.
"Kami sangat bangga kepada saudara-saudara, karena dengan sukarela dan tanpa tuntutan saudara mau menyerahkan senjata dan amunisi. Kami harapkan ini bukanlah akhir, tetapi semoga kerjasama kita sebagai mitra Polri dapat terus berjalan, tanpa masyarakat Polisi bukan apa-apa," harapnya. (Cepos)

Sunday, November 22, 2015

IJN: jurnalis asing baru tahu Papua aman

Ketua Indonesian Journalist Network (IJN) Papua-Papua Barat, Roberth Vanwi (kanan) bersama James, warga negara asal AS dalam sebuah acara di Papua
Papua Satu. Delapan jurnalis asing yang mengunjungi Kota Jayapura menyatakan baru tahu bahwa Papua aman, jauh dari kesan sebaliknya di luar negeri, kata Sekretaris Indonesian Journalist Network (IJN) Jorsul Sattuan.
“Intinya mereka kaget, karena (ternyata) Papua aman. Jauh dari kesan (berdasarkan) informasi yang mereka terima di masing-masing negaranya,” kata Sekretaris IJN Papua dan Papua Barat, Jorsul Sattuan di Kota Jayapura, Selasa (17/11/2015) malam.
Terkesimaan delapan jurnalis asal negara-negara Asia Pasifik dan Afrika itu terungkap Selasa siang pada jamuan makan di Kota Jayapura bersama dengan kontributor atau wartawan anggota IJN atau Jaringan Jurnalis Indonesia Provinsi Papua dan Papua Barat.

Wartawan dari Vanuatu Daily Post mengaku heran dengan kehidupan di Kota Jayapura dan daerah lainnya di Papua yang tidak berlakukan jam malam seperti di negara Pasific Selatan.

Dalam acara tatap muka yang berlangsung hampir dua jam itu, Jorsul yang juga kontributor Tv One di Papua mengatakan bahwa delapan orang jurnalis negara-negara sahabat itu datang melalui Journalist Visit Program (JVP) Kementerian Luar Negeri.
“Mereka terlihat begitu tertarik dengan Kota Jayapura atau Papua pada umumnya setelah menerima informasi dari kami,” katanya.
Menurut dia, dalam pertemuan itu para wartawan asing juga menanyakan bagaimana dengan kebebasan pers dan liputan HAM di Papua, apakah masih mengalami tekanan dari para penguasa atau tidak.
“Termasuk mereka menanyakan tentang bagaimana mendapatkan informasi dari masyarakat di kampung-kampung jika terjadi suatu peristiwa. Kami jelaskan bahwa informasi itu kami dapat dari masyarakat, kemudian mengcroscek kepada pejabat berwenang, tentunya dalam membuat berita tetap gunakan kaidah jurnalistik, perimbangan berita,” katanya.
Ia juga mengatakan, wartawan bernama Royson Willie dari Vanuatu Daily Post mengaku heran dengan kehidupan di Kota Jayapura dan daerah lainnya di Papua yang tidak berlakukan jam malam seperti di negara Pasific Selatan.
“Dia heran, di sini tidak ada jam malam, hidup bebas beraktivitas 24 jam, tidak ada yang larang, kecuali berbuat onar atau kriminal pasti pihak polisi amankan untuk ditindak sesuai hukum,” katanya.
Para wartawan asing yang berkunjung ke Kota Jayapura itu berasal dari negara Asia Pasifik dan Afrika, yakni Timoci Tavaiviti Vula dari Fiji Sun negara Fiji, Royson Willie dari Vanuatu Daily Post negara Vanuatu, Alfred Solomon Sasoko dan Loji Mathias Avla dari Islands Sub negara Kepulauan Salomon.
Lalu, Elias Aweke Tedesse dari Focus Magazine negara Ethiopia, Rasoamaromaka Rejo dari Radio National Madagascar negara Madagaskar, Anthony Mochama Ontita dari The Standard negara Kenya dan Mashaka Bonifas Mgeta dari The Guardian negara Tanzania.
Para wartawan asing itu ke Jayapura sebagai peserta Journalist Visit Program (JVP) 2015 yang digelar oleh Kementerian Luar Negeri.
Kegiatan JVP itu merupakan rangkaian kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi Asia dan Afrika yang telah dilaksanakan pada 22-23 April 2015.
Program JVP Asia Pasifik dan Afrika mulai sejak 8-18 November 2015 yang akan mengunjungi daerah-daerah di Indonesia antara lain Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung dan Jayapura. [ANTARA News]

Dunia Tak Memandang Usaha Kelompok Separatis Bersenjata Papua "Percuma"


Membahas dengan adanya isu-isu yang tersebar di media sosial seperti pemberitaan miring atau tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi kini semakin marak beredar. Dilihat dari usaha salah satu kelompok yang berseberangan dengan Ideologi maupun pemerintahan Indonesia yaitu kelompok separatis di tanah Papua. Terdapat beberapa kelompok separatis di Papua yang selalu berjuang untuk membebaskan Papua dari bingkai Negara Kesatua Republik Indonesia. Kelompok tersebut tersebar di beberapa tempat dan seluruh anggota kelompok tersebut berada di berbagai wilayah di Papua maupun Papua Barat.

Dapat kita nilai atau tebak bahwa kelompok yang selalu memperjuangkan Papua pecah dari NKRI adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Kelompok tersebut mempunyai tugas masing-masing untuk medukung para pejuang untuk memisahkan diri dari NKRI.

Kelompok OPM sendiri sering melakukan operasi maupun teror-teror di wilayah Papua, sedangkan KNPB selalu melakukan demo-demo anarkis di wilayah Papua Barat.

Kedua kelompok ini saling mengimbangi satu sama lain untuk bersatu memisahkan diri dari NKRI. Terdapat beberapa usaha-usaha mereka untuk berkoar-koar di dunia maya. Seperti pembuatab berita dimana mereka mahir dalam memutarbalikkan fakta yang benar-benar tidak terjadi.

Salah satu berita terhangat saat ini adalah berita mengenai “AS Siap Siaga Kirim Pasukan untuk Memerdekakan Papua” dimana berita ini adalah berita yang sudah tersebar pada 20 Februari 2012. Dan kini berita tersebut diangkat lagi oleh salah satu website yang mendukung pemisahan Papua. Sudah berapa lama berita itu dibuat??? “Ya, berita tersebut sudah 3 tahun lamanya di unggah di situs website maupun blogspot, dan kini beredar kembali tanggal 15 November  2015”. Ungkap salah satu penulis pengamat perkembangan di Papua (CI).

“Berita tersebut terupdate tidak jauh berbeda dengan berita yang tertulis pada tanggal 20 Februari 2015, dan sekarang (15 November 2015) hanya merubah foto saja, itupun foto yang diunggah adalah hasil editing yang menurut saya kurang profesional dalam memperhalus editan foto”, jelasnya.

Terungkap bahwa berita itu hanyalah salah satu usaha dari kelompok berseberangan yang ingin selalu membuat gempar di Bumi Papua. Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa “AS akan mengerahkan pasukannya di Darwin guna melindungi Papua, jika Indonesia nantinya menlak kemerdekaan Papua yang disahkan PBB secara sepihak”.  

Apabila ditelusuri, bahwa Australia berada di Darwin sebenarnya adalah untuk membendung Cina, Bukan untuk ke Papua dan membantu pembebasan Papua. 

Disini sangat terlihat bahwa kelompok ataupun penulis berita (OPM) tersebut ingin mengadu domba antara Indonesia dan Kelompok Separatis tersebut dengan membawa dukungan dari Australia. 

Sangat keras usaha yang dilancarkan oleh Kelompok OPM dan KNPB yang dilancarkan sehingga berita 3 tahun lalu diunggah kembali dalam salah satu situs blogspot dengan mengumbar berita miring.

Dalam berita tersebut terdapat kata-kata “alasan mengapa masalah Papua tidak pernah selesai, karena pemerintah selalu menggunakan cara represif dengan menggunakan kekuatan bersenjata. Sedangkan cara pendekatan lainnya kurang maksimal, sebab tim yang dibentuk selalu saja tidak bekerja dengan semestinya”.

Bila anda(pembaca) menanggapi serius akan beredarnya berita tersebut atau statemet diatas, silahkan telusuri hal-hal apa saja yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk memajukan Papua. Dana Otsus telah diberikan dalam melancarkan pembangunan di Papua. Pejabat-pejabat di Papua pun adalah seorang Putra-Putri Asli Papua, karena Putra-Putri asli Papua itu sendiri tahu dan paham situasi yang ada di Papua dan akan selalu berusaha membuat Papua semakin maju.

Bila dilihat dari pihak sebelah (yang tertuju pada kelompok OPM dan KNPB), apa yang selalu mereka perbuat??? “Mereka hanya bisa nembak-nembak orang yang gak bersalah, neror orang terus kerjanya, apalagi anggota TNI-Polri yang bertugas di pedalam Papua yang bertugas untuk meningkatkan keamanan pun mereka tembak sampai mati” ujarnya (CI).

“Semua orang tahu bahwa tugas TNI-Polri mengatur keamanan dan perdamaian di Papua, Kok ditembak?? Itu berarti bahwa OPM yang selalu menginginkan perselisihan agar Papua terlihat di mata dunia itu tidak aman. Gitu kok ngomong TNI-Polri selalu menggunakan kekuatan senjata, apa tidak keliru?”

Jikalau anggota TNI-Polri melakukan penembakan itu berarti bahwa mereka dalam posisi terdadak untuk pengamanan warga dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Sudah berapa banyak korban yang menjadi kekejaman dari kelompok OPM dan KNPB. Apabila salah satu anggota OPM atau KNPB mati tertembak, kelompok tersebut selalu berkoar-koar Hak Asasi Manuasia (HAM) tetapi mereka seenak sendiri melakukan teror maupun penembakan kepada masyarakat yang tidak bersalah sehingga membuat kondisi tidak kondusif.


Sudah jelas dimata dunia bahwa kelompok OPM dan KNPB sangatlah kejam. “Walaupun mereka (OPM dan KNPB) selalu mempengaruhi beberapa negara, tetapi di lingkup Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mereka hanyalah kelompok pengemis yang meminta perhatian saja” Jelas CI.

Sunday, September 27, 2015

Kepala Suku Ajak Umat Islam Perkuat Dakwah di Papua

Papua Satu. Pendidikan Islam di generasi Muda Papua perlu diperkuat. Ini dimaksudkan agar regenerasi umat Islam di Papua tak berhenti.
Kepala Suku‎ Muslim di Jagara, Arif Lani mengungkap regenerasi sudah berjalan. Namun, tantangannya tak mudah. Pertama, sarana pendidikan Islam untuk anak dan tenaga pendidik juga kurang.
Di Wamena misalnya, untuk fasilitas sekolah, praktis hanya ada Madrasah Werasugun Asso dan Pondok Pesantren Al Istiqomah di Walesi dan Yayasan Pendidikan Islam di Wamena. ‎Hingga saat ini, tidak ada lagi penambahan jumlah sekolah.
‎Kedua, dakwah di masjid hanya berlangsung saat Jumatan saja. Terlebihnya, tidak ada kegiatan rutin sehingga penguatan akidah cenderung lemah. ‎”Masalah ini bisa apabila umat Islam peduli. Caranya, dengan melengkapi masjid dengan fasilitas pendidikan dan pembinaan,” kata dia, Jumat (24/9).
Menurut Arif, dampak dari kurang kuatnya pendidikan Islam sejak dini terlihat ketika memasuki usia nikah. Banyak dari mereka yang akhirnya menikah dengan non-Muslim, dan akhirnya keluar dari agama Islam.
Belum lagi pergaulan dengan lingkungan non-Muslim. Ini tentu akan memberikan pengaruh besar terhadap generasi Muslim baru Papua. “Pergaulan ini tidak bisa dihindarkan. Tapi bisa mencegah dampaknya ketika akidah generasi muda diperkuat,” kata dia.
Untuk tenaga pendidik, lanjutnya, walaupun sebenarnya ada namun alokasi untuk pendidikan di wilayah pegunungan cenderung tidak memenuhi kebutuhan. Mereka yang sudah terdidik justru memilih wilayah lain seperti Jayapura. ‎”Di Kabupaten Jayawijaya misalnya, hanya ada 14 sarjana. Tidak semua sarjana kembali ke daerah asalnya,”kata dia.
Memang, lanjut Arif, ada bantuan tenaga pendidikan setiap tahun datang. Namun, jumlah yang datang dan pergi tentu tidak sama. Jadi, tidak ada kepastian apakah akan ada tenaga pendidik yang menyiapkan generasi baru Muslim Papua.
“Tidak mungkin terus mengandalkan orang tua,” katanya. [republika.co.id]