Monday, March 03, 2014

Sketsa: “Konspirasi Teroris” Papua Raib 17 Orang














BUTIRAN hujan menhujam turun dari ketinggian pohon Lingua, berlingkaran batang empat rentangan tangan orang dewasa. Hutan lebat berkehijauan bergradasi, khasMamberamo Raya, Papua. Titik hujan jatuh ke rawa bak petikan dawai harpa ditingkahi dingin hawa, liris tangis, bersahutan suara perempuan, entah tawa apakah gila.

Di balik pohon tinggi itu, beberapa orang pria berseragam bak tentara memasang mata tajam. Pandangan mereka tertuju ke sebuah gua buatan berpagar bambu berpenutup berpelepah rumbia. Di dalam “penjara” itu ada 9 pria. Delapan wanita lainditempatkan di bedeng bak kandang babi hutan. Di sekitar para perempuan itu dipasang beberapa ranjau bambu runcing.


Ketujuh belas orang tadi dinyatakan hilang pada 3 Maret 2009, dalam perjalanan menggunakan speed boat dari Serui ke Mamberamo. Namun kapal itu tak sampai tujuan, raib ditelan bumi berikut 17 penumpangnya. 

Anehnya, ketika 9 orang, salah satunya perempuan asal Menado, karyawan PT Kodeco, perusahaan pemegang HPH, di kemudian hari juga lenyap pada Juni 2012,mereka justru bisa berkumpul dengan ke-17 orang dinyatakan hilang pada 3 Maret 2009 itu. Artinya peristiwa sempat ramai 2009 itu, lalu senyap, kehidupan mereka tersandera.

Pertanyaan siapa dalang semua ini?


Adalah satu dari sembilan orang karyawan Kodeco bernama DA, usia sekitar 27 tahun, kulit sawo matang, rambut keriting tipis, asli Serui, Papua. Ia sempat tiga bulan disekap. DA bersama RD lalu kabur, berlari dan berlari selama seminggu, dan kini mereka bisa kembali ke Jayapura. DA kepada Tim Pencari Fakta Independen (TPFI)saya verifikasi di Jayapura, menyaksikan bagaimana kejadian keji terjadi.


“Para wanita bak dikandang babi itu, diperkosa banyak pria dalam sehari.”


“Salah seorang ibu, yang baru saja melahirkan, anaknya diambil, seketika lalu disetubuhi lagi.”


“Bergantian.”


“Ibu berkulit putih berparas cantik itu, kemudian hari sebelum saya kabur, menyayat nadinya dengan sembilu-bambu. Ia meninggal,” tutur DA di Jayapura ke Tim TPFI.


“Dia punya mayat ditutupi dengan daun-daun kemudian dibuang begitu saja di rawa-rawa”


Dalam kondisi jiwa terguncang, ketakutan, DA di rumahnya kini setiap orang masuk selalu terperanjat melompat. Ia bisa kabur dari rombongan itu ketika diminta mencari kayu bakar. Momen itu digunakan lari dan lari, termasuk mencuri kabur perahu orang ditemuinya di rawa. Bak adegan film jungle survival, DA mengaku demi menyelamatkan diri mengupas kelapa dengan mulut, menggigit bak beruk, termasuk mengunyahkan untuk kawan sepelariannya RD lemas dan kecapean.


Kasus raib 17 orang itu dalam verifikasi saya dan TPFI, berlatar penggunaan APBD, Kabupaten Mamberamo Raya, terindikasi korupsi lebih Rp 40 miliar di saat pejabat Bupati kala itu Demianus Kyeuw Kyeuw, kala itu care taker Bupati, dan Bendaharawan, Thomas A.E. Ondy. Sesuai dengan surat yang dikirim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kepada Kejaksaan Tinggi Papua, 4 Oktober 2013, tentang penyidikan bantuan dana pemberdayaan 58 kampung pada delapan distrik, APBD 2008.


Di dalam speedboat ditumpangi oleh 17 orang itu, tersebutlah salah satunya Ishak Petrus Muabuay. Ia adalah Kabag Umum Pemkab Mamberamo Raya. Ishak pernah mengkritisi penggunaan anggaran yang dilakukan oleh Demianus Kyeuw Kyeuw. Ishak juga pernah memukul Thomas Ondy karena menelantarkan pembayaran gaji banyak karyawan Pemda. Menurut keterangan kakak kandung Ishak, Regina Muabuay dan adiknya Hendri Muabuay, bahwa setelah Thomas Ondy dipukul lalu mengancam dan bilang, “Nanti kau lihat saja.”


Ishak Petrus Muabuay semula ingin digandeng oleh Demianus Kyeuw Kyeuw, sebagai calon wakilnya di Pilkada 2010. Namun Ishak mengatakan bersedia asal semua indikasi penggelapan uang APBD diaudit. Dan Ishak juga berencana melaporkan ke KPK. Di lain momen gelagat Ishak tercium oleh Demianus Kyeuw Kyeuw, bahwa Kabag Umum itu juga akan mencalonkan diri sebagai Bupati Mamberamo Raya.


Selain urusan di atas, di duga dalam speedboat itu ada 3 pengusaha, dalam hal ini Rahmania, di antaranya, salah satu wanita pengusaha Anggota IWAPI, yang berparas cantik, Ia saya duga sosok yang diperkosa beramai-ramai itu, membawa uang lebih dari Rp 1 miliar untuk kepentingan pembayaran karyawan proyeknya di Mamberamo kala itu. Rahmania anggota Bhayangkari, suaminya Kapten Suyadi, kini masih menetap di Serui. Dugaan soal membawa uang banyak itu dibenarkan oleh saksi mata saya temui di Jayapura. Pada 2009 itu belum ada bank di Mamberamo. Semua serba cash. Pada 2010 baru ada ada Bank Daerah Papua di Mamberamo.


Ketika kasus hilangnya 17 orang di speedboat itu terungkap, Pemda Mamberamo Raya seakan diam. Belum ada upaya intensif pencarian. Justeru upaya keras dominan dilakukan oleh keluarga, terutama pengusaha keturunan, Ferdianto Sunur, bergerak di bidang kontsruksi. Keluarga mereka pernah mencari sampai menyewa pesawat segala.


Adapun ke- 17 orang hilang itu lengkapnya; 1. Ishak Petrus Muabuay, 2. Rahmania, 3. Atika Saraswati, pengusaha, 4. Ferdiyanto Sunur, pengusaha PT, Karsa Tama, 5. Juliana Muay, pencari kerja, 6. Jack Karubaba, Pencari kerja, 7. Guntur Torobi, pencari kerja, 8. WaryonoWarobi, pencari kerja, 9. Dhopi Reba, pencari kerja, 10. Natalia Rumbiak, pencari kerja, 11. Erna Samori, pencari kerja, 12. Imroatul Khasanah, pencari kerja, 13. Gerson Wanggai, juru mudi speedboat, 14. Lambert wanggai, crew, 15. Maikel Kawari, crew, 16. Tonny Fonatab, crew dan 17. Brigadir Ayub Karubaba.


Pada 2011, Widiyanto P, Direktur Waspadnas Ditjen Kesbangpol Kemendagri, kepada TPFI mengatakan sudah melakukan upaya pencarian tentang masalah penyanderaan itu. Dan kala itu diperoleh keterangan menyebutkan bahwa sebagian besar para sandera masih hidup. Dan pada 2012 berada di sekitar Waropen Atas, Mamberamo Raya, lokasi di mana diperkirakan saksi mata DA melihat Rahmania digilir dan bunuh diri.


Esok, 3 Maret 2014, tepat lima tahun kasus ini terjadi. Salah seorang keluarga korban memohon kepada saya untuk bisa bicara ke media terutama televisi. Saya katakan di saat tahun politik kini, kisah seperti ini bisa jadi kurang laku. Saya pun pernah menyarankan seluruh telepon selular korban diforensik digital. Namun upaya ini, tentu membutuhkan biaya, tak banyak orang mau bekerja sosial. Saya katakan kini, kita coba saja di media sosial, siapa tahu satu, dua media mau mengupas masalah ini.


Dalam kulwitt saya di Twitter semalam dengan hastag #Verifikasi17oranghilangPapua saya pun menyitir riset literatur. Bahwa Koran Bintang Papua, 11 Juli 2011, juga pernah memberitakan 6 orang anggota Badan Intelijen Negara RI, berikut 5 warga sipil hilang di perairan Mansaburi Manokwari. Itu artinya 17 orang, ditambah 9 karyawan Kodeco, plus 11, berjumlah 37 nyawa “lenyap” seakan kini tak tahu rimbanya.


Sementara itu, Bupati Mamberamo Raya saat ini hingga 2015 masih Demianus Kyeuw Kyeuw. Telepon selularnya di nomor 081317737xxx tidak bisa saya kontak, nada tidak menjawab. Salah satu anggota TPFI, yang berusaha meminta waktu berjumpa dengannya mengkonfirmasi kasus raibnya 17 orang hilang ini, mendapat jawaban, “Kalau kau mau membahas masalah ini, tanya ke Polda Papua, itu tanggung jawab Polda Papua, kau mau ditangkap Polda Papua?”


Dan dalam penulusuran misteri hilangnya 17 orang penumpang speedboat ini, kemudian, ternyata diduga bertali-temali kepada pembunuhan Pendeta Zeth Krioma, saat mengantar logistik Pemilukada ke Barapase 8 April 2009. Pembunuhnya John Tanate dan Esau Rumaikewi, kini sudah dipenjara 20 dan 17 tahun.


Esau di persidangan hari ke-6 berteriak di ruang sidang. Ia mengakat tangan dengan Alkitab di kepala, “Saya akan terkutuk dan keluarga saya tujuh turunan akan terkutuk kalau saya membunuh pendeta. Tetapi kamu semua mesti bersyukur, karena saya tidak dibunuh juga, dan kalau saya dibunuh, pasti 17 orang yang hilang tetap misteri.”


John Tanate berkata ke kakak Ishak Muabuay, Regina Muabuay, ketika berkunjung ke penjara, “Aduh Ibu Guru kamu tolong saya, kalau saya biacara, saya punya keluarga habis. Kalau saya tidak bicara kamu semua benci saya.”


Itu artinya John dan Esau, bisa dijadikan saksi kunci. Entah mengapa kasus ini dibiarkan bak kentut, bau, tapi berlalu sahaja.


@iwanpiliang Citizen Reporter

Sumber: http://hukum.kompasiana.com/2011/07/26/apa-sih-hebatnya-iwan-piliang-381571.html

Friday, February 28, 2014

Patroli Brimob Ditembaki OPM Di Papua

Serui (28/2) - Aksi teror gerombolan pengacau keamanan yang menamakan dirinya Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali melakukan gangguan-gangguan keamanan di Papua.

Setelah kemarin 25 Februari 2014 mereka menembaki Pos TNI Yonif 753 dan menyebabkan satu orang warga sipil terluka di bagian kaki kirinya, kini mereka melanjutkan aksinya di Kampung Kontinuai dengan menyerang anggota Brimob yang sedang melakukan patroli keamanan kampung.

Kejadian penyerangan ini terjadi sekira pukul 13.30 WIT siang tadi di Kampung Kontinuai Angkaseira Serui sehingga aksi baku tembakpun tak terhindarkan.

Menurut anggota Polres Serui, tidak ada korban dalam aksi penyerangan tersebut dan pihaknya saat ini sedang melakukan pengejaran yang dilakukan oleh anggota Brimob dan Polsek Angkaseira.

Ditambahkan lagi, bahwa identitas pelaku penyerangan ini telah diketahui oleh pihak kepolisian. Mereka adalah OPM kelompok Rudi Orarei yang sering melakukan aksinya di wilayah Angkaseira.

Pihak kepolisian akan melakukan penangkapan secepatnya dan akan diadili sesuai hukum yang berlaku. Agar masyarakat sekitarnya dapat melakukan kegiatan sehari-hari tanpa harus merasa takut. (PS)

Thursday, February 27, 2014

Menyerang Pos TNI di Papua, KSB Melukai Satu Warga Sipil



Pos Merah Putih di Mulia


Mulia (Papua Satu) – (27/2) Telah terjadi penyerangan oleh beberapa orang tak dikenal terhadap Pos TNI di Wuyuneri Distrik Mulia Puncak Jaya. Diduga kuat penyerangan ini dilakukan oleh Kelompok Sipil Bersenjata (KSB) yang sering mengganggu masyarakat di sekitar Puncak Jaya.

Wednesday, February 26, 2014

Raja Ampat Menjadi Tuan Rumah Sail Indonesia 2014

Setelah Sail Komodo 2013, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat akan menjadi tuan rumah pelaksanaan sail tahun 2014, dengan nama Sail Raja Ampat 2014. Penujukan Raja Ampat sebagai tuan rumah terungkap baik melalui surat-surat resmi maupun secara lisan, oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono pada penutupan Sail Komodo 14 September yang lalu di Labuan Bajo, Manggarai Barat tahun lalu.

“Pemerintah Kabupaten Raja Ampat sudah menyampaikan kesiapannya menjadi tuan rumah Sail Indonesia 2014 melalui surat resmi kepada Asosiasi Sail dan Wisata Indonesia (Aswindo),” kata Ketua Aswindo Hugua. Menurut dia, Sail Indonesia yang dipusatkan di Raja Ampat akan dihadiri sekitar 180 kapal layar mewah (yacht) dari berbagai negara, yang akan bertolak dari Australia sebagai titik awal konvoi.

Hugua mengungkapkan, para peserta Sail Indonesia hanya mau singgah di wilayah kabupaten yang pemerintah dan masyarakatnya bisa menyuguhkan berbagai atraksi budaya yang belum tersentuh modernisasi.

“Di wilayah kabupaten yang disinggahi, para peserta Sail hanya mau melihat kehidupan masyarakat yang masih alami dan kondisi lingkungan yang masih hijau,” katanya.

Ia mengatakan para peserta Sail rata-rata orang berkantong tebal di negara-negara maju yang sudah bosan melihat bangunan gedung pencangkar langit dan kehidupan yang penuh dengan rakayasa.

“Ketika para peserta layar ini tertarik dengan keaslian kehidupan masyarakat dan alam lingkungan, mereka akan berusaha kembali datang dan membawa keluarga dan kerabatnya,” katanya.

Salah satu tujuan Sail Indonesia adalah untuk mempercepat pembangunan daerah tertinggal tetapi juga dalam rangka mempromosikan potensi wisata alam dan wisata budaya daerah yang bersangkutan.

“Saya harap seluruh elemen masyarakat untuk kerja sama dan membangun kemitraan yang baik untuk mensukseskan pelaksanaan sail 2014. Nanti akan banyak program dari kementerian dan lembaga kabinet Indonesia bersatu yang akan masuk ke Raja Ampat,” harap Agung Laksono di Labuan Bajo tahun lalu. [Zonadamai.com]